Zhalim

“Maaf, sisanya nggak bisa aku bayar. Cukup tiga juta setengah itu saja.” Tukas ibu setengah baya yang mengenakan jilbab mini berwarna putih. Lembaran merah ratusan itu digeletakkan begitu saja di atas meja.

“Ibu kok begitu? Kan perjanjiannya lima juta. Kita sudah sepakat segitu. Ini buktinya.” Aku menyodorkan kwitansi yang telah ditandatangani olehnya.

“Kaffe seperti itu nggak cocok dengan harga segitu. Lagian aku juga nggak punya uang.” Jawabnya enteng. “Sudah bawa uang itu sana!” Ibu itu menghardikku. Baca lebih lanjut

Cinta yang Terkubur Masa

Bising suara knalpot tak henti menjerit. Mengaung menerobos sela-sela bangunan usang kampusku. Mereka tak peduli dengan hamba-Nya yang tengah bermunajat. Sungguh tidak perduli. Dan sekarang aku tengah khusyuk terduduk takzim. Terselimuti oleh remang-remang lampu keimanan yang menyembul dalam hatiku. Usai shalat Isya. Di dalam mushala kampus. Tengah berdzikir memuji Rabbku. Menghinakan diri di hadapan-Nya. Namun tiba-tiba konsentrasiku terpecahkan. Bukan oleh suara knalpot tadi. Tapi oleh suara yang pernah kukenal beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih Aliyah. Ketika jiwaku bergejolak. Ingin mencoba butanya cinta. Cinta ala ABG yang baru keluar dari SMP.

“Kak, ada ikhwan yang mau ketemu sama Anti katanya.” Suaranya menghentikan munajatku.

Baca lebih lanjut

Keluargaku Tukang Ojek

Temaram senja mulai menyapa. Berselimut kabut yang semakin pekat. Hawa dingin pun lamat-lamat seperti hendak melucuti sendi. Menusuk hingga ke sumsum. Tepat adzan Dzuhur Ari sampai di basecamp pendakian Sembalun Lawang. Ia tengah merebahkan dirinya. Untuk beristirahat barang sejenak. Agar semua sendi kembali ke tempatnya. Tiba-tiba sebuah ide melesat-lesat dalam pikirannya.

“Mending dari sini langsung ke Sumbawa saja. Kan sudah dekat.” Ia membatin.

Seketika itu ia langsung menyambar Hp usang dalam sakunya. Mencari nomor yang hendak dihubungi. Ia tergesa. Mulutnya komat-kamit. Seperti tengah mebaca mantera. Baca lebih lanjut

Lelaki Calon Penghuni Jannah

Pada Suatu hari tatkala para shabat sedang duduk-duduk bersama Rasulullah r, beliau bersabda, “Akan datang  di tengah-tengah kalian dari arah sini seorang laki-laki  calon penghuni surga.”

Kemudian tidak berapa lama datanglah seorang laki-laki Anshar yang jenggotnya masih meneteskan bekas air wudhu. Dia memasuki majlis Rasulullah dengan menenteng terompahnya di tangan kanannya, lalu mengucapkan salam pada Rasulullah r. Baca lebih lanjut

Rinjani Kelabu

(Menang lomba “Lukisan Cinta Nusantara)

Sembalun senja masih seperti biasanya. Terselimuti kabut tipis yang semakin pekat. Berlahan bebukitan yang mengelilinginya menghilang. Tertutup oleh awan tebal dan gelap malam. Saat itu hawa dingin semakin mencekam. Mencoba untuk mencakar-cakar kulit anak-cucu Adam. Menyusup hingga menjerang belulang. Menerobos hingga ke sumsum. Hampir membeku. Jika sempat berjamaah di salah satu masjid waktu shalat Maghrib dan Isya, pemandangan yang wajib kita lihat adalah para lelaki berjaket tebal dengan sorban yang menutupi kepalanya atau melilit di lehernya. Jika menunggu iqamat sambil berdiri, mereka akan menghangatkan kedua telapak tangannya di ketiak secara silang. Baca lebih lanjut