Keluargaku Tukang Ojek

Temaram senja mulai menyapa. Berselimut kabut yang semakin pekat. Hawa dingin pun lamat-lamat seperti hendak melucuti sendi. Menusuk hingga ke sumsum. Tepat adzan Dzuhur Ari sampai di basecamp pendakian Sembalun Lawang. Ia tengah merebahkan dirinya. Untuk beristirahat barang sejenak. Agar semua sendi kembali ke tempatnya. Tiba-tiba sebuah ide melesat-lesat dalam pikirannya.

“Mending dari sini langsung ke Sumbawa saja. Kan sudah dekat.” Ia membatin.

Seketika itu ia langsung menyambar Hp usang dalam sakunya. Mencari nomor yang hendak dihubungi. Ia tergesa. Mulutnya komat-kamit. Seperti tengah mebaca mantera.

Umi, habis turun dari Rinjani saya mau langsung ke Sumbawa.”

“Hah, ke Sumbawa….., mau ngapain?” Suara ibunya terdengar sayup-sayup dari speaker Hp-nya. Sepertinya ia kaget mendengar perkataan anaknya yang terlalu optimis itu.

“Mau ke rumah nenek.” Jawabnya santai. “Sudah lama nggak silaturrahim, mumpung lagi di rumah kusempatkan berkunjung ke sana.” Lanjutnya enteng.

Rasa lelah yang menjerang setiap sendinya terabaikan begitu saja. Hanya untuk satu kata: silaturrahim. Seakan kata itu adalah mantera keramat yang membuatnya kebal dari bisikan-bisakan pesimisme. Bagaimana ibunya tidak kaget, ketika berangkat ke Rinjani kemarin, ia hanya membawa uang pas-pasan. Ibunya yang memberinya langsung. Sehingga bisa dikatakan bahwa niatnya itu hanya bermodal nekat. Tak lebih dari itu. Sepertinya ia sangat yakin dengan konsep yang diajarkan oleh Rasulullah bahwa bersilaturrahim itu memanjangkan umur dan mempernbanyak rizki. Maka ia juga yakin bahwa nanti akan ada rizki yang datang tidak terduga. Hingga ia bisa sampai ke tujuannya.

Dari Sembalun ia langsung bertolak ke Sumbawa. Usai adzan Ashar. Uang yang ada di genggamannya hanya cukup untuk bisa naik kapal. Itu menurut perhitungannya. Meski sedikt gamang, namun rasa optimis itu tetap mengalahkan keraguan yang sempat menggembosi niatnya. Di perjalanan ia terus berdo’a , semoga Allah membantu niatnya. Niat untuk bersua dengan kakek dan neneknya.

$$$

Malam semakin gulita. Benang hitam dan putih tak lagi bisa dibedakan. Pelabuhan Tano semakin sepi. Tak seperti di siang hari. Jauh berbeda. Ari termangu di pinggir jalan. Duduk di atas trotoar. Ia hanya menunggu sebuah kejaiban. Ia mancoba menelisik ide-ide yang masih berserakan. Sambil mengumpulkannya.

“Mau ngojek, tak ada uang.” Ia berfikir. “Terus….?” Ia bertanya dalam diri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tertunduk. Mendengus.

“Hemmm… aku punya ide. Tinggal bilang saja ke tukang ojek kalau mau dibayar pas sudah sampai. Gampangkan. Tapiii….?” Ia akembali berfikir.

“Semoga saja tukang ojek yang aku tumpangi bukan orang yang hendak mencelakaiku.” Ia khawatir. Pasrah.

“Tapi biarlah. Jika Allah tak berkehendak nggak mungkin terjadi. Aku yakin itu.” Ia menasehati dirinya sendiri.

Ia mengangkat badannnya sekuat tenaga. Kemudian memaksakan kakinya tertatih.  Limbung. Seperti macan kelaparan. Tiba-tiba deru sepeda motor menghampiri.

“Brumm….brumm…..brumm.” Tukang ojek setengah baya itu memainkan gas motornya. “Mau kemana dek?” Tanyanya.

“Mau ke Sumbawa Besar Pak.” Jawabnya pasti.

“Sumbawa Besarnya mana?” Ia memastikan.

“Kampung Brangbiji. Bapak tahu?”

“Oh… Brangbiji. Ayo naik kalau gitu!”

“Tapi biayanya berapa Pak?” Dia memastikan. Sedikit ragu.

“Pitu puluh ribu.”

“Hah, tujuh puluh ribu…. Nggak bisa kurang?’ Ia kaget. “Tiga puluh ribu saja pak. Aku nggak punya uang ni.” Ia menawar sambil memelas.

Tawar-menawar pun terjadi dengan sengit. Hingga sepakat di angka 40.000 dan akan di bayar setelah sampai tujuan. Ari pun langsung melesat. Meninggalkan Tano. Ia hilang dimakan gulita. Bersama tas rangsel di punggungnya.

$$$

Jarum jam tepat di angka sembilan. Motor yang ditumpanginya tengah asyik bercengkerama dengan jalan yang berkelak-kelok. Keduanya masih berdiam. Masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Di Brangbiji mau ke rumahnya siapa?” Tukang ojek itu membuka pembicaraan.

“Ke rumahnya Abe Haja.”

“Rumahnya yang di mana ya?”

“Seingatku rumahnya deket masjid. Lupa-lupa inget sih. Aku sudah lama nggak ke sana. Terakhir waktu kelas V SD dulu. Sudah hampir enam tahun aku tinggal di Jawa.” Ia menjelaskan. “Nantilah kalau sudah sampai sana insya Allah aku inget. Perasaan nggak susah-suah amat kok.” Ia melanjutkan.

“Kalau boleh tahu siapa nama suaminya?”

Papen Jaber.”

“Hah, Papen Jaber?!” Ia kaget. “Yang bener?”

“Emang bener.”

“Kamu kenapa nggak ngomong dari tadi. Itu kan pamanku. Tapi paman jauh.”

“Paman jauh…, maksudnya?”

“Ayahku itu adik sepupunya kakekmu itu. Nde Jaber.”

“Ow gitu. Kita keluarga dong berarti?” Tukas Ari.

“Coba kamu ngomong dari tadi. Kita tidak usah ribut dengan uang empat puluh ribu itu.”

Keraguan yang bergelayut di hati Ari pun hilang begitu saja. Berganti dengan sebuah keyakinan dan rasa syukur yang teramat. Ia bisa bertemu dengan keluarganya tanpa disangka. Sebuah karuna terindah tentunya. Dan juga pertolongan yang datang dari Alloh karena rasa optimisnya. Satu jam kemudian Ari pun bertemu dengan kakek-neneknya. Tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun untuk naik ojek. Sekarang ia menikamti sebuah euforia kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s