Cinta yang Terkubur Masa

Bising suara knalpot tak henti menjerit. Mengaung menerobos sela-sela bangunan usang kampusku. Mereka tak peduli dengan hamba-Nya yang tengah bermunajat. Sungguh tidak perduli. Dan sekarang aku tengah khusyuk terduduk takzim. Terselimuti oleh remang-remang lampu keimanan yang menyembul dalam hatiku. Usai shalat Isya. Di dalam mushala kampus. Tengah berdzikir memuji Rabbku. Menghinakan diri di hadapan-Nya. Namun tiba-tiba konsentrasiku terpecahkan. Bukan oleh suara knalpot tadi. Tapi oleh suara yang pernah kukenal beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih Aliyah. Ketika jiwaku bergejolak. Ingin mencoba butanya cinta. Cinta ala ABG yang baru keluar dari SMP.

“Kak, ada ikhwan yang mau ketemu sama Anti katanya.” Suaranya menghentikan munajatku.

Aku pun tersentak. Denyut jantungku seakan terhenti. Ikhwan? Siapakah dia? Benarkah suara lirih yang sempat menerobos telingaku itu berasal dari seorang ikhwan yang ingin bertemu denganku. Ah, aku tidak yakin. Dia tak mungkin kembali dalam percaturan hidupku lagi. Tak mungkin. Tapi jika Allah berkerndak? Rasa penasaranku pun mencuat.

“Siapa dia? Apa mahasiswa di sini?” Aku mencoba menyelidik.

“Nggak tau Kak. Tapi katanya penting. Ada yang mau disampaikan katanya.”

Aku semakin bertanya-tanya.

“Aku yang keluar atau kusuruh dia yang masuk?” Aku mencoba berfikir. Bertanya pada hati kecilku.Aku bimbang. Siapakah dia? Aku juga belum bisa memastikan.

“Suruh dia masuk saja dik. Biar aku yang duduk di luar nanti.” Perintahku pada adik tingkat yang akrab denganku.

Detak jantungku semakin tak karuan. Beberapa kali tersendat. Karena tersumbat oleh satu pertanyaan yang belum bisa kujawab. Kuangkat badan berlahan. Menuju teras mushala.

“Assalamualaikum.” Langkahnya gontai dengan kepala menunduk. Ia masuk ke dalam mushala. Berpapasan denganku di depan pintu. Dia pun duduk di samping pintu.

Kuangkat kepalaku sejenak. Saat berpapasan dengannya. Menangkap kelebat wajahnya dari balik cadarku. Dan ternyata dugaanku benar. Tapi untuk apa dia ingin bertemu denganku? Bukankah dia sudah tidak peduli denganku lagi?

Lantas aku pun duduk di teras. Juga di samping pintu. Kujadikan lempengan kayu bercat putih itu sebagai tabir. Karena kami faham, tanpa tabir hanya akan menuai dosa. Aku tidak memnginginkan hal itu.

Ia mencoba membuka pembicaraan dengan menanyakan kabarku. Kemudian ia bercerita tentang kegiatannya selama ini. Tentang keinginnanya untuk menjadi punggawa-punggawa Islam hingga titik darah penghabisan. Ia tak mau diklaim setengah-setengah dalam berislam.

Ia ingin seperti Arqom bin Abil Arqom yang berani mempertaruhkan nyawanya demi perkembangan Islam padahal baru berumur 14 tahun. Ia rela menjadikan rumahnya sebagai markaz dakwah Islam padahal sukunya tengah bermusuhan dengan Bani Hasyim. Ia juga ingin seperti Muadz dan Muawidz. Dua kakak-beradik yang berumur 17 dan 18 tahun tapi berhasil membunuh Abu Jahal, seorang dedengkot Quraisy. Ia juga ingin seperti Hamzah bin Abdul Muthalib. Paman Nabi yang mendapat gelar singa Allah. Dan ia juga ingin seperti Utsman bin Affan yang dijanjikan masuk jannah karena mendermakan 900 unta beserta muatannya dan emas 1000 dinar saat perang Khaibar. Ia juga ingin seperti para Ahlul Badri yang dibebaskan dari jilatan api neraka yang menyala-nyala karena mereka telah berjuang dengan jiwa dan raganya di medan Badar. Ghirahnya melambung tinggi. Membumbung menggapai zenit. Sejak dulu memang selalu bersemangat untuk menegakkan agama Allah. Dan ternyata semangatnya itu tak pernah terkikis. Justru semakin tumbuh subur. Seperti hutan di musim hujan. Tak ada kegersangan sejengkal pun.

“Terus apa yang telah memaksa antum untuk menemuiku malam ini?” Aku memotong pembicaraannya.

Ia terdiam.

“Ukhti, semenjak aku bertemu denganmu enam tahun yang lalu, ternyat telah banyak merubah kehidupanku. Tanpa sadar aku menyimpan rasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Terus kurawat rasa itu sampai akhirnya bisa kuungkapkan sekarang. Ukhti, maukah anti menjadi partner hidupku dalam menegakkan dien ini?”

Sejenak akupun ikut terdiam. Tiba-tiba suasana mushala menjadi hening. Seakan orang-orang yang berseliweran itu hanyalah sebongkah patung. Hanya ada semilir angin malam yang menyejukan jiwaku. Hatikku berdesir berlahan. Aku seperti tengah dia atas awan. Terbang bersama indahnya pelangi. Berjingkat-jingkat layaknya kutilang dalam sangkar. Menyeruak euphoria yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tapi kenapa tiba-tiba nafasku tercekat. Menjadi tidak karuan. Seperti penderita asma’ akut yang tengah kambuh. Kemudian berlari ratusan meter. Kepalaku semakin menunduk. Namun hati kecilku menolak. Berontak. Mengintakan akan masa silam. Mengingatkan pada hari-hari sebelum kalimat itu terlontar dari mulutnya. Keringat dingin pun bercucuran. Dari bilik gamisku. Ia tidak mengetahuinya.

“Bukankah kamu sudah menutup rapat-rapat pintu itu? Kenapa kamu memaksa untuk membukanya?” Hati kacilku membentak. Aku langsung terdiam.

“Campakkan semua itu. Itulah balasan bagi ketidakjelasan. Coba pikirkan kembali! Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak memikirkannya lagi? Bukankah goresan luka yang menganga itu menjadikan kamu trauma? Sehingga enggan terulang di kemudian hari?” Hati kecilku semakin memekik. Aku mati kutu, diam seribu bahasa. Tak bergeming.

“Kok anti diam?”

Aku tidak menjawabnya. Mulutku terkunci. Hatiku bergemuruh. Antara mimpi dan terjaga. Aku belum bisa menerima sepenuhnya. Beribu rasa pun berkumpul. Menyatu. Dalam suatu kuali besar hatiku. Aku tetap terdiam.

“Sa…saya minnnn..ta maaf sebelumnya.” Ucapannya terbata. Seperti tengah mengeja. “Tapi itulah yang kurasakan selama ini. Kalau memang anti belum bisa menjawabnya, saya beri waktu tiga hari. Kutunggu jawabannya via telpon atau sms. Besok saya mau bertolak ke Bima. Sekali lagi saya minta maaf.”

Diapun beranjak. Sambil mengucapkan salam. Dia membiarkanku mematung di teras mushala. Kaku. Aku masih terdiam. Belum beranjak barang sejengkal.

@@@

Darrr….!!!

Daun pintu kostku menjerit. Kubanting keras. Membangunkan cicak-cicak yang tengah bermesraan di dalam kamar. Mereka dalam formasi mengelilingi secercah cahaya lampu. Aku ingin seperti cicak-cicak itu. Tapi takdir belum menyapa. Dan sekarang justru aku trauma. Untuk menjamah fitrahku. Yang telah digariskan oleh Rabbku. Sebagai orang yang normal.

Kulempar badanku begitu saja. Di atas kasur empuk terbalut sprei coklat muda bermotif bunga. Kupeluk guling erat-erat. Aku sesenggukan. Berlahan bulir bening menganak sungai. Dari pojok mataku. Kemudian menetes ke atas bantal berbalut bunga tulip.

Hatiku semakin gemuruh. Memaksa diri tuk menatap awan. Menatap indahnya gemintang. Dalam berjuta rasi yang tak beraturan. Indah nian. Namun hati kecilku tak henti menjerit. Mengelebatkan memoar masa silam. Saat aku menunggu kehadirannya. Dalam hidupku. Berharap banyak akan sebuah kejujuran. Yang memendam beribu asa dalam jiwa. Namun ternyata, ia malah menghilang. Sebelum hadir dengan membawa seonggok pertanggungjawaban.

Ah, aku tak mau membuka lembaran remajaku lagi. Di saat aku masih duduk di bangku Aliyah dulu. Aku sudah jengah. Kertas putih masa puberku sudah terlanjur ternoda oleh bercak hitam yang tak bisa kuhilangkan. Hanya ada satu cara untuk menhapusnya: dirobek. Tapi itu tak mungkin. Karena masa lalu tetap akan melekat dalam kalbu. Tak akan hilang. Aku sadar itu. Terus bagaimana caranya?

Ya Allah. Bukannya aku tak ridha dengan takdir-Mu. Tapi lidah ini terasa getir jika harus memaksa diri membuka pitu yang telah kututup rapat. Aku telah menguburnya ke dasar sungai terdalam. Bahkan lebih dalam dari itu. Cintaku kepadanya telah terkubur masa. Sejak beberapa tahun terakhir ini.

Aku kembali sesenggukan.

Masih terngiang jelas awal aku mengenalnya dulu. Dari saudarinya yang akrab denganku. Dialah yang selalu membanggakan adiknya. Yang sangat berharap padanya untuk menjadi baik. Pensiun dari kenakalan masa SMP-nya. Dia tahu jika aku sejak kecil hidup di lingkungan pondok. Terlebih aku adalah anak dari salah satu kiyai pengasuhnya. Sehingga ia yakin, jika adiknya masuk pondok kelak. Ia bisa menitipkannya padaku. Agar aku membeimbingnya untuk menyongsong jalan hidup yang lebih terang.

“Aku percaya sama kamu.” Ungkapnya.

“Percaya gimana maksudnya?”

“Aku percaya kalau kamu bisa membimbing adikku jika masuk pondok nanti.”

“Tapi aku tidak tahu siapa dia.”

“Kamu sudah tahu kan latar belakang keluargaku?”

Aku mengangguk.

“Dan aku tidak ingin masa depannya suram karena tidak terbimbing oleh syariat.” Ia mengungkapkan isi hatinya. “Sekarang dia masih SMP. Lumayan nakal. Memang aku maklumi karena baru puber. Tapi aku nggak ingin itu terus berlanjut. Makanya aku ingin memasukannya di pondok. Dan aku harap kamu bisa membimbingnya nanti.”

“Siapa namanya?”

“Namanya Rian. Wajahnya tidak seperti kebanyakan orang di sini. Dan sorot kharismatiknya sangat kentara jika ia berbicara. Orangnya cerdas. Tapi karena kenakalannya sehingga nilaina anjlok. Kulitnya putih dengan rambut tipis.”

“Ow….” Aku menjadi penasaran.

Pikiranku semakin melanglang buana. Mengikuti alur cerita masa laluku. Kucoba telisik lebih detail lagi. Dan sampailah pada saat aku ujian masuk Aliyah.

“Rian!!” Seorang guru memanggil namanya. Sambil memegang absen bersambul merah.

“Haadir!” Jawabnya sambil mengangkat tangan.

Reflek kepalaku mencari sumber suara. Dan terhenti saat kulihat seseorang yang membuat hatiku berdesir.

“Dia memang ganteng.” Aku membatin. “Astaghfirullah…” Kepalaku langsung tertunduk. Ah Rian. Kenapa kamu harus ada di ruangan ini. Akankah aku mengungkapkannya?

Terus kubongkar sisa-sisa file dalam memoriku. Hingga sampailah pada saat aku duduk di kelas dua Aliyah. Di kala aku tidak menyadari komepetisiku dengannyadalam merebut nila. Tak ada yang mau mengalah. Aku ingin sesalu mengunggulinya dan begitupun dia. Terkhusus dalam pelajaran Tafsir Qur’an.

Juga pada saat aku dipilih sebagai ketua Ummahatul ghod (UG) dan dia sebagai rijaalul ghod (RG), semacam OSIS di SMA. Dia bagian lelakinya dan aku perempuannya. Aku sangat berharap dalam kesempatan ini akan terjadi keakraban. Tapi ternyata tidak. Suaranya sangat mahal untuk hanya sekedar dilontarkan di hadapanku. Ketika ada masalah di antara santriwan atau santriwati, ia justru mengutus temannya untuk berbicara kepadaku.

“Kenapa dia seperti ini?” Aku membatin. “Kenapa dia tidak mau terus terang denganku? Bagaimana aku bisa mengarahkannya jika dianya saja nggak mau berbicara denganku.” Aku dilematis.

Jarum jam terus berdetak. Tak berjeda barang sejenak. Waktu bergulir seiring dengan berbagai tragadi yang mendera kami berdua. Tapi tetap tidak ada kejelasan. Hingga ia lulus dan melanjutkan studinya di Jawa. Ia tetap membisu. Suaranya masih terlalu mahal untuk diberikan kepadaku. Ia hanya berani bersuara saat meminjam buku. Mungkin karena terpaksa. Setelah itu, ia berlalu begitu saja.

Hingga akhirnya harapan-harapan itu kututup rapat-rapat. Aku pun trauma. Aku tidak ingin bermain cinta lagi. Tidak akan!! Karena hanya akan memasung diriku dalam jeratan-reratan yang menyakitkan. Mungkinkah karena tidak sejalan dengan syariat. Karena cinta yang benar tak mengkin menyaktikan. Aku tidak ahu.

Namun kenapa dikala pintu itu telah terkunci rapat, ia malah datang menghampirikiku untuk mengungkapkan semuanya. Kenapa ia lebih memilih memendam perasaannya? Apakah karena ia ingin mengamalkan sebuah dalil akan jaminan syurga jika ia memendam rasa dan tidak melampiaskannya. Ataukah karena ia takut terjerumus dalam percintaan yang tidak dihalakan jika ia mengungkapkannya.

Ya alloh. Bantulah aku untuk memberi keputusan untuk tiga hari ini. Aku bingung. Aku bimbang. Aku sudah terlanjur trauma. Aku tak ikgin luka di hatiku semakin menganga. Hingga menyisakan rasa perih yang tak terperikan.

Ya Allah, bantulah aku menjalani semua ini. Aku masih terlalu lemah untuk mendapatkan ujian seperti ini.

Kuputar badanku 180 derajat. Hingga aku pun terlentang. Kuusap air mata yang sempat mengucur deras. Dengan punggung telapak tanganku. Aku sesenggukan. Kucoba mengeja plafon berwarna putih. Mencoba berdialog dengan cicak-cicak yang tengah menunggu mangsa. Ia terlihat sumpringah saat berhasil mencaplok seekor nyamuk. Tapi aku di sini justru bersedih saat orang yang dulu pernah kutunggu datang menghampriri. Kenapa ini terjadi??

@@@

Jarum jam sudah di angka dua. Aku masih belum bisa memejamkan mata. Kucoba menutup rapat kelopak mataku, tetap hanya terpejam. Tak berjanjak larut dalam mimpi-mimpi indah yang kuharapkan.

“Lebih baik aku bermesraan dulu dengan Allah. Kenapa aku pusing dengan urusan yang sebenarnya kecil ini. Allah punya segalanya. Kenapa aku tidak meminta kepada dia.”

Aku pun beranjak dari kamar tidurku. Kuangkat kakiku berlahan ke kamar mandi. Kuambil air wudhu untuk shalat malam. Kubaca ayat-ayat penggugah jiwa. Untuk menghibur jiwaku yang lara. Kusemptakan membaca surat asy syuura ayat yang ke-23. Sambil menitikkan air mata.

“Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Kusempatkan juga mentadaburi ayat-Nya usai kuseselesaikan tiga rakaat witir. Kubuka secara acak. Dan ternyata lewat ayat-Nya yang ke-35, Alloh mensehatiku.

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Ya, memang aku tidak boleh brsedih jika aku merasa orang yang bertaqwa. Lantas apakah aku salah jika masalah ini membuatku sedih? Sepertinya tidak juga. Itu hal yang manusiawi.

Kututup mushaf bersampul pink. Kurebahkan badanku di atas karpet. Dan akupun terlelap. Hanyut dalam mimpi-mimpi indah. Terbang ke negeri antah berantah. Melewati daerah tanpa tapal batas. Kutinggalkan dunia sejenak. Melepaskan kepenatan.

@@@

Tiga hari kemudian . . . .

Handphoneku berderit keras. Kusambar secepat kilat. Aku sangat terkejut saat membaca sms dari teman ta’limku. Aku terperangah.

“Ukhti, seorang Ustdz yang sering ngisi ta’lim kita katanya pengin melamarmu. Gimana?”

“Ustadz yang mana?” Aku penasaran.

“yang belum nikah itu. Kan tinggal satu.”

“Yang belum nikah?”

“terus?”

“Kok terus? Ya kamu terima nggak?”

Jariku bergetar. Tiba-tiba menjadi kaku. Seperti terendam dalam es batu. Aku tidak bisa membalasnya. Rasa bimbangku semakin menguat. Ustadz Adnan. Aku membayangkan dia. Kenapa dia juga harus dating. Siapakah yang harus aku pilih. Sementara sekarang aku masih belum bisa memberikan jawaban buat Rian. Antara menerima dan menolak. Sebenarnya aku masih mencintainya. Tapi hatiku terlanjur terluka. Dan rasa itu juga sudah kulempar jua. Meski dengan terpaksa.

“Gimana?” Ia menunggu jawabanku. Aku tambah bingung.

Memang, beberapa bulan terakhir ini aku merasakan sesuatu yang tak bisa didefinisikan. Saat temanku menyebut namanya aku langsung gemetar. Saat kudengarkan kajiannya bibirku terasa kelu. Ingin mengucapkan sesuatu yang tak bisa dilafadzkan. Dan hatiku tiba-tiba bergemuruh. Apakah aku juga mencintainya. Sebuah cinta yang mencoba tuk menampakkan kuncupnya. Di sela-sela relung hatiku. Sunguh aku dilematis. Manakah yang harus aku pilih?

@@@

Sang mentari semakin menyengat di sore hari. Sebelum ia beranjak dari singgasananya. Langkahku semakin gontai. Menyusuri lorong-lorong kecil menuju kostku. Aku masih bimbang dengan sebuah balasan yang ingin kuberikan pada Rian. Aku belum bisa menolak, tapi juga sangat berat untuk menerimanya. Karena rasa itu sudah terlanjur hengkang. Dari lubuk hatiku yang terdalam.

Kuambil hp dalam tas coklatku. Tuk kutatap sejenak angka-angkanya. “Jam setengah lima.” Desisiku.

Beberapa saat setelah kumasukan lagi kedalam tas ia malah menjerit. Ingin kembali disapa. Ternyata sebuah sms dari Rian. Aku mnejadi bertanya-tanya. Marahkah ia? Karena sampai detik ini aku belum memberinya jawaban. Aku penasaran.

“Ukhti, kuakui hati ini telah merindukanmu tapi kerinduanku akan wajah-Nya telah mengubur semua keinduanku kepadamu.”

“Apa maksudnya?” Aku ingin memperjelas.

“Ya. Meski saat ini aku rasakan kerinduan yang sangat. Tapi kerinduanku akan wajah-Nya lebih dahsyat.”

“Terus?”

“Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Karena aku tidak mau mengganggu skripsimu. Dan aku juga sudah bertekad untuk melanjutkan studiku di pulau sebrang. Sebagai bukti akan kecintaanku terhadap Rabbku. Dan keputusanku ini sudah final.”

Ah Rian. Kenapa kamu selalu seperti itu. Kenapa kamu selalu memutuskan sepihak. Sebelum aku memberi sebuah jawaban. Kamu sungguh tega terhadapku. Rian.

Mataram, 9 Juni 2011

By. Faqih Adz-Dzaky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s