Zhalim

“Maaf, sisanya nggak bisa aku bayar. Cukup tiga juta setengah itu saja.” Tukas ibu setengah baya yang mengenakan jilbab mini berwarna putih. Lembaran merah ratusan itu digeletakkan begitu saja di atas meja.

“Ibu kok begitu? Kan perjanjiannya lima juta. Kita sudah sepakat segitu. Ini buktinya.” Aku menyodorkan kwitansi yang telah ditandatangani olehnya.

“Kaffe seperti itu nggak cocok dengan harga segitu. Lagian aku juga nggak punya uang.” Jawabnya enteng. “Sudah bawa uang itu sana!” Ibu itu menghardikku.

Kejadian itu benar-benar membuatku lunglai. Dada ini terasa begitu sesak. Seperti tengah mendaki langit. Nafasku tersenggal-senggal. Sungguh kurasakan ujian ini begitu berat. Seorang muslimah yang imannya telah lama layu, karena tak pernah dipupuk dan disiram oleh ilmu. Namun di saat pupus-pupus ini mulai kuncup, tiba-tiba angin kencang berhembus garang. Mencoba merontokkan tangkai dan daun mudanya. Aku terombang-ambing.

Kembali kucoba menasehati diri. Dengan petuah-petuah yang pernah mampir di telinga ini. Kemudian kuhunjamkan dengan penuh energi. Hingga tertanam kuat dalam lubuk hati. Hanya satu yang kuingat: aku tengah diuji. Mampukah aku melewati jalan berkelok lagi berduri? Diapit jurang-jurang terjal yang menantang. Aku yakin badai garang pasti akan segera hengkang. Dan aku harus tetap teguh berdiri di atas imanku.

“Ya Allah, dia telah tega menzhalimiku. Engkau pasti akan membalasnya dengan setimpal. Tidakkah ibu itu tahu  kalau di sana ada anak yatim yang tengah menunggu haknya?” Aku membatin. Mengenduskan nafas panjang saat keluar dari gerbang rumahnya.

“Ya, Allah Engkau pasti tahu kalau sekarang aku sangat membutuhkan uang itu. Meski hanya satu setengah juta.” Badanku mulai lemas. Hampir tak kuasa mengenderai motor metik biruku.

Suamiku baru saja meninggal. Ia menitipkan dua anak permpuannya yang masih kecil. Sebenarnya ia seorang konglomerat. Namun istri pertamanya tidak memberikan hak warisku. Sehingga aku pun harus berjibaku dengan garangnya percaturan hidup yang tak pernah kulakoni sebelumya. Dan sekarang, anakku sedang sakit. Rencananya uang itu untuk menebus obat di rumah sakit. Ya Allah, aku harus mencari ke mana? Kemarin uang-uang itu kuhamburkan. Seperti tak ada nilainya. Ya, aku sadari itu. Mungkin aku kurang mensyukuri nikmat-Mu sehingga Engkau mencabutnya dari genggamanku. Dan Engkau Maha Tahu akan semua ini. Karena Engkaulah yang membuat skenarionya.

%%%

Kuterobos senja dengan fikiran entah ke mana. Melibas kabut tipis yang mengusung hawa dingin. Menerpa jilbab kaos coklatku yang sepanjang lutut. Sebenarnya aku belum terlalu kuat untuk menerima ujian ini. Tapi tak mungkin Allah menguji hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak setimpal dengan kadar keimananya. Aku yakin itu. Sekarang aku laksana orang yang tengah menunggu undian. Berkali-kali sang pemandu undian hanya bisa menjerit: kosong!! Ia kembali merogoh kotak. Mencoba mengambil potongan kertas yang lain, namun para hadirin tetap memekik dengan riuh, “Lanjut!!”

Terus kutunggu. Dengan kesabaran ekstra. Namun aku hanya bisa menatap kelebat putih potongan kertas tanpa goresan tinta. Polos. Dan yang kunanti saat ini bukanlah kertas undian yang bertuliskan nomor seri yang tergeletak dalam kertas yang kugenggam. Atau bahkan namaku. Sekali lagi bukan. Aku hanya mengharap sebuah kata keramat yang bisa menghibur sekaligus memberi solusi pada masalah yang tengah menderaku.

Di saat aku hampir putus asa, tiba-tiba sang pemandu undian mengacungkan sebuah kertas bertuliskan hanya satu kata: curhat. Seketika aku bak terbangun dari tidur lelapku. Aku pun tersadar kalau sekarang harus mencurhatkan masalah ini ke seorang da’iyah harismatik yang sudah kuanggap ibu kandungku sendiri. Dia yang selalu mendengar keluh-kesahku. Dan dia juga yang telah menuntunku untuk menyongsong hidayah yang tiada ternilai harganya ini. Bunda Zahra. Aku harus ke rumahnya sekarang. Tekadku.

Tepat adzan Maghrib aku sampai di rumahnya. Tergopoh. Kuketuk pintu berlahan. Kuucapkan salam dengan nada bercampur muram.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Seorang ibu membuka pintu rumahnya yang bercat pudar. Dengan senyum yang mengembang. Membuat hatiku semakin teduh. Ia seperti Bidadari. Putih bersih. Karena terbalut oleh mukenahnya. Ia hendak menyambut seruan dari Rabbnya.

“Eh Nakda….” Sambutnya ramah. “Tumben ke sini jam seginian. Ada masalah apa? Sangat pentingkah?”

“Bundaaa…!!” Aku langsung memeluknya.

Hanya sepatah itu yang bisa terucap. Aku tak mampu berkata-kata. Lantas kutumpahkan seluruh kesedihanku di atas pundaknya. Dia mengecup pipiku dengan penuh kasih sayang. Seperti seorang ibu kepada anaknya.

“Nakda…, kita shalat berjama’ah dulu yuk. Nggak usah bersedih, Allah akan selalu bersama kita. Serahkan semuanya kepada Sang Khaliq. Pasti beres.” Suaranya lembut.

Aku mengangguk.

%%%

            Ruang tamu berukuran 4×4 meter itu tiba-tiba membisu. Sebisu gulita yang menyekap rumahnya. Hening. Yang ada hanyalah dendang isak yang berasal dari kerongkonganku. Bertalu bersama hembus semilir angin malam. Kita sama-sama terdiam. Mendadak semuanya menghormatiku. Sofa kuning di ruang tamu juga terdiam. Takzim menyimak tangisanku. Lampu hias yang tergantung di plafon putih  itu juga sesaat berhenti dari goyangannya. Berkesiap mendengar keluh-kesahku. Mereka memberiku sebuah jeda tuk sekadar menumpahkan seluruh kesedihan ini di hadapannya.

“Nakda, sekarang ceritakan apa yang telah menimpamu sayang. Apa yang telah membuat air matamu tak bisa terbendung?” Ia mencoba membuka pembicaraan.

“Bunda…., barusan aku dizhalimi seseorang.” Jawabku terbata. “Ia telah merampas harta anakku yang yatim.”

“Apa?!” Ia terkaget. “Apa maksudnya?” Ia mencoba klarifikasi. Sambil menyondongkan badan dari sandarannya.

“Iya Bunda. Aku juga tidak menyangka dia akan setega itu.” Aku tetap terisak.

“Coba terangkan bagaimana kronologisnya Nakda..!!”

Semua terdiam. Antusias.

“Sebelumnya saya sudah sepakat akan menjual kaffeku kepada Ibu Maimun seharga lima juta. Dan dia sudah menandatangi kwitansinya. Namun pada saat pembayaran ia hanya memberikan tiga setengah juta saja. Sisanya tidak mau dibayar. Katanya tidak punya uang dan juga karena nggak cocok dengan harga segitu.” Kuterangkan panjang lebar.

“Bun…bunda, padahal sekarang saya sangat butuh uang itu untuk menebus obat buat anakku yang sedang sakit. Aku tidak memiliki tabungan lain Bunda. Hanya uang itu saja yang kuharapkan saat ini.” Aku tetap sesenggukan. Suaraku mulai tercekat.

Bunda Zahra pun langsung naik darah. Mukanya memerah. Telinganya berdenging. Dan mulutnya komat-kamit. Sedangkan tangannya diremas-remas seperti ada sebuah benda yang sedang digenggam.

“Celaka dia!!” Suaranya memekik. Ia hampir berdiri.

“Kamu sabar saja Nakda. Allah Maha Adil dengan semua ini. Dia pasti akan membalasnya dengan setimpal. Apalagi ini urusannya dengan anak yatim. Sungguh celaka. Dia telah merampas harta anak yatim.” Terang da’iyah yang kulitnya sudah mulai keriput. “Kita lihat saja apa yang akan terjadi dengannya. Sekali lagi serahkan semua urusan ini kepada Allah. Pasti semuanya beres!” Lanjutnya.  Intonasi suaranya masih tinggi.

Aku mencoba menyeka air mataku dengan saputangan warna biru yang sejak tadi kugenggam. Hampir kuyup karena air mataku terus menganak sungai di pipiku. Meski begitu aku sudah merasa lega karena telah mencurhatkan masalah ini kepada orang kepercayaanku. Orang yang menyayangiku seperti ibu kandunggku sendiri. Dan seperti inilah kasih sayang yang terajut oleh ikatan iman. Dan baru kurasakan ketika mencoba untuk selalu dekat dengan Sang Khaliq. Seperti sekarang ini.

%%%

Dua hari kemudian …

Cerah pagi membuat kerling mata tak sudi terhenti. Menuntut tuk menikmati sorot mentari yang beranjak naik. Seperti biasanya, ibu Maimun menyirami bunga-bunga yang tengah menyembul-nyembul di halaman rumahnya. Semuanya. Tak peduli dengan bunga yang di luar pagar sekalipun. Pagar semen bercat biru tua itu semakin lama warnanya semakin cerah. Bukan karena direnovasi. Atau temboknya dimanfaatkan untuk sponsor telpon selular. Sama sekali bukan. Melainkan sebaliknya. Sudah sekian lama tak sempat dicat ulang. Berubah cerah memudar. Termakan usia. Bahkan tembok rumahnya pun sudah penuh coretan di sana-sini. Juga belum sempat dicat ulang. Bukan karena tak punya uang, tapi karena ia tak terlalu perhatian dengan hal-hal seperti ini. Acuh.

Ia terlihat sangat asyik menikmati bunga-bunga yang tengah kuncup. Yang hendak menyongsong siang dengan memekarkannya. Dedaunan pohon paku di sekitarnya pun bergoyang. Diterpa gemercik air dari mulut selang yang menyembur-nyembur. Ia tetap menikmati euforia pagi dengan rutinitas yang monoton ini. Tapi sayangnya, pagi ini tidak seperti pagi yang lain. Yang selalu memberi kepuasan di benaknya.  Dan sekarang Allah berkehendak lain. Allah ingin membalas dosanya dengan musibah yang tak tertangguhkan. Dari arah yang tidak disangka-sangka.

“Brakkkk……!!” Seorang pemuda terpelanting dari motornya setelah menghantam ibu Maimun dari samping kanan. Ibu setengah baya itu juga ikut terpelanting. Selang biru di genggamannya mengangkasa. Lantas tergeletak di sampingnya.

Semua terkaget. Seisi rumah keluar.

“Ibuuuu….!” Suara jerit histeris dari dalam rumah membahana memecah awan. Semakin keras menghampiri jalan raya.

“Dasar laki-laki kurang ajar. Naik motor nggak pakai mata!” Seorang laki-laki berperawakan tinggi-kurus menghardik tanpa jeda.

“Ibu…. bangun ibu…!!!” Badannya digoyang-goyangkan. Tapi tetap tak bergeming. Pingsan. Tanpa daya. Darahnya bercucuran di siku dan kepala. Jilbab putihnya berubah merah darah. Menyala.

Lelaki itu meringis kesakitan. Matanya merah. Menebarkan sorot mata setan. Mulutnya pengap. Seperti sungai Ciliwung yang berlumpur  limbah. Tangan dan kakinya lecet. Ia juga bercucuran darah di bagian pundaknya. Rupanya tadi malam ia telah menenggak puluhan botol minuman keras. Dan pagi ini ia masih belum siuman. Hingga mungkin ia ingin menampakkan kehebatannya dengan menabrak orang yang tengah berdiri di pinggir jalan. Tapi justru mencelakai diri. Dan juga orang lain.

%%%

Ruang ICU masih menebarkan hawa duka. Badannya masih lunglai di atas pembaringan. Ia masih trauma dengan kejadian yang telah menimpanya. Ia ingin berbisik sesuatu. Tapi mulut masih tak kuasa. Anak semata wayang yang tengah menungguinya mendekat. Mencondongkan kepalanya di dekat mulut ibunya.

“Ada apa ma?”

“Min…mintakan maafku sama penjual kaffe di Majapahit itu.” Suaranya terbata.

“Kenapa harus minta maaf ma?”

“Kamu tak perlu bertanya. Sampaikan saja permintaan maafku ini.”

“Iya mama.”

Ia langsung beringsut dari tempat tunggunya. Bergegas menuju rumah yang diperintahkan oleh ibunya. Ia masih bertanya-tanya. Ada apakah gerangan? Kenapa harus meminta maaf sama dia? Sambil terus menjejakan kakinya di atas keramik rumah sakit kota.

%%%

Setelah tujuh tahun berlalu …

Langkahku tiba-tiba terhenti. Kakiku seperti menginjak lem perangkat tikus yang sengaja dipasang di lantai depan minimarket Anggora. Aku tertegun sejenak. Saat melintas di hadapanku seorang perempuan setengah baya yang sepertinya pernah melintas dalam memoriku. Dan kini kelebat tragedi yang pernah terekam dalam kaset usang mozaik hidupku memaksa untuk diputar kembali. Aduhai…siapakah gerangan?? Kenapa bayangan wajahnya tak bisa kuhilangkan.

Aku terus memaksa ingatanku menelisik setiap scene adegan yang pernah kumainkan. Dan akhirnya terhenti dalam sebuah layar saat aku ke rumahnya dan ia tidak membayar sesuai kesepaktan.

“Oh ibu itu…” Aku berbisik sambil mendekatinya. “Assalmualaikum…” Sapaku sambil menjulurkan tanganku.

“Waalaikum salam..” Ia mengulurkan tangan kanannya sambil dibantu dengan tangan kirinya. “Maaf tangan kanan saya lumpuh.”

“Separah itukah. Pantes saja anaknya sempat memintakan maaf demi kesembuhannya. Tapi hukuman itu memang pantas. Ya Allah, Enkau Maha Adil kepada setiap hamba-Mu.” Aku membatin.

“Oh nggak apa-apa. Oya, ibu masih kenal saya?”

“Hemm..sepertinya saya lupa. Siapa yah?” Ia sedikit terbata. Layaknya orang yang berpura-pura.

“Saya yang menjual kaffe pada Ibu sekitar tujuh tahun yang lalu. Masih ingat?”

Aura wajahnya tiba-tiba berubah. Seperti kepiting hitam yang tersiram air panas. Langsung memerah. Sepertinya ia juga masih mengingat kuat perbuatannya di masa silam.

“Sebentar…sebentar…oh iya saya ingat. Gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah kabarku baik bu. Oya, gimana perkembangan affenya?”

“Sejak saya kena musibah saya sudah tidak mengurusnya lagi. Dan akhirnya saya tutup. Saya lebih sering beraktifitas di rumah sekarang.”

“Ow gitu…oya maaf Bu mau cepet-cepet ni. Saya mau cari barang-barang dulu.”

“Oh iya mbak silahkan. Saya juga mau cepetan ni.”

“Assalamu alaikum Bu.”

“Waalikum salam.”

Aku langsung ke dalam. Meninggalkan seorang hamba yang telah mendapat hukuman. Dan kezaliman pasti akan terbalaskan.

By: Faqih Adz-Dzaky

Mataram, 18 Februari 2012 Jam 22.32 Wita

Diangkat dari sebuah kisah nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s