Hukum Main Catur

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, “Apakah boleh bermain catur dengan syarat-syarat sebagai berikut : Tidak terus menerus (kontinyu) tapi hanya pada waktu luang saja. Tidak saling mengejek Selama pemainan. Tidak melalaikan shalat-shalat wajib? Mohon penjelasannya!”

Jawaban:

Menurut pendapat yang kuat bahwa permainan catur hukumnya adalah haram dengan beberapa alasan.

Pertama, buah catur tidak ubahnya seperti patung yang memiliki bentuk. Sebagaimana diketahui bahwa memiliki gambar atau patung hukumnya adalah haram, karena Nabi r bersabda, “Malaikat enggan memasuki rumah yang didalamnya ada gambar.” [Al-Bukhari dalam bab Bada’ul Khalqi 2336; Muslim dalam bab Al-Libas 85-2106]

Kedua, Permainan tersebut telah condong membuat lalai dari mengingat Alloh I, maka segala sesuatu yang dapat membuat lalai dari mengingat Alloh I adalah haram hukumnya. Karena Alloh I telah menerangkan tentang hikmah dilarangnya khamr, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan firman-Nya, “Se-sungguhnya setan itu  bermaksud  hendak  menimbulkan permusuhan dan kebencian dianta-ra kamu lantaran (meminum) khamr dan ber-judi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Alloh dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Maidah: 91]

Alasan lain yang membuatnya haram adalah bahwa permainan itu berpotensi menimbulkan permusuhan sesama pemain, dimana seseorang bisa saja mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya ia ucapkan kepada saudaranya sesama muslim. Selain itu, permainan catur dapat membatasi kecerdasan seseorang hanya pada satu bidang saja (hanya dalam permainan catur saja) dan dapat melemahkan akal sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas.

Konon dikatakan bahwa orang yang tekun dalam permainan catur, jika mereka terjun ke bidang lain yang membutuhkan kecerdikan dan kecerdasan, maka kita mendapatkan mereka sebagai orang yang paling lemah akalnya. Untuk alasan itulah maka permainan catur diharamkan.

Jika permainan catur tanpa menggunakan uang atau tanpa berjudi saja hukumnya haram, apalagi bila permainan itu disertai dengan perjudian.

[Al-As’ilah Al-Muhimmah, hal. 17, Syaikh Al-Utsaimin]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s