DZAKAT (Bukti Etika Islam Terhadap Hewan)

“Sesungguhnya Alloh mewajibkan untuk berbuat baik pada segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka perbaikilah cara pembunuhannya. Jika kalian menyembelih, maka perbaikilah cara penyembelihannya. Hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya, dan hendaklah mempermudah kematian binatang sembelihannya. (HR. Tirmidzi, 1329 dengan derajat hasan shahih).

Kebencian Barat terhadap Islam menjadikan mereka selalu berasumsi miring terhadap agama ini. Tatkala umat Islam merayakan hari raya Idul Kurban mereka pun mengolok, “Lihat saja pada saat Ibadah Kurban!! Hewan-hewan ternak itu antri untuk dibantai beramai-ramai tanpa bisa menolak, menghindar dan protes. Mereka hanya bisa meronta-ronta meregang nyawa, menggelepar-gelepar kesakitan!! Sedangkan umat Islam pada saat itu hanya menonton dengan santainya, bahkan ada yang tertawa-tawa puas saat melihat sang ternak dibantai habis!?”

Menurut mereka, kalau ingin memakan daging ternak, maka cara terbaik sebelum menyembelih adalah ternak dipingsankan terlebih dahulu kemudian kepalanya dipukul dengan alat stunning (pemingsan) Captive Bolt Pistols.

Ada tiga alasan mengapa mereka memilih metode ini. Pertama, kuwalitas daging & kulit bagus karena tidak ada acara ‘dibanting’, sehingga ternak jatuh secara pelan, kulit dan daging tidak memar. Kedua, petugasnya aman, terutama terhindar dari ‘sepakan sapi’!! Ketiga, yang jelas, karena telah pingsan, maka ternak tidak akan merasa kesakitan (akibat disembelih), sehingga metode ini ‘sangat’ manusiawi, tidak seperti syari’at Islam !?

Namun, benarkah alasan mereka ini? Tentu salah karena tidak sesuai dengan syari’at Alloh I. Berapa waktu yang lalu, Prof. SCHULTZ dan Dr. HAZIM  seorang Animal Scientists dari Hanover University, Jerman, telah menguak hikmah di balik metode Islam. Keduanya merancang suatu penelitian ilmiah terstruktur dengan menggunakan materi dan metode tercanggih. Mereka membandingkan manakah yang terbaik antara syari’at Islam dengan Metode Barat. Parameter yang diamati ada dua; pertama mencari metode penyembelihan yang paling manusiawi, tidak menyiksa ternak serta paling efektif, dan yang kedua mencari metode yang ‘lebih tidak sakit’ bagi ternak.

Di antara hasil penelitiannya menyatakan bahwa meronta-ronta, menggelepar-gelepar, dan meregangkan otot saat disembelih bukanlah ekspresi rasa sakit. Tapi ia hanyalah ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja saat darah mengalir keluar dengan deras. Karena pisau tajam yang mengiris leher ‘tidaklah menyentuh’ saraf rasa sakit.

Ya! Syari’at bukanlah ladang untuk bermain akal, sehingga yang tidak terasio boleh diotak-atik sekehendak hatinya. Sebagai hamba, kita hanya dituntut sami’na wa atha’na (mendengar dan ta’at). Sang Khaliq-lah yang paling tahu akan tabir di balik perintah dan larangan yang Dia syari’atkan.

Penyembelihan dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, istilah penyembelihan atau penikaman hewan yang dihalalkan untuk dimakan disebut dengan ذَكَاةٌ (dzakat). Mengenai teknisnya ada dua macam; pertama dengan cara  ذَبْح (menyembelih), yakni  dengan memotong kerongkongan dan dua urat lehernya. Termasuk binatang    yang     disembelih      adalah    ternak,

semua jenis unggas, dll. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat: 107).

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

“Sesungguhnya Alloh menyuruh kamu me-nyembelih seekor sapi betina.” (Al-Baqarah: 67)

Sedangkan yang kedua adalah dengan cara ‘نَحْر’ )penikaman(, yakni dengan menikam (menusuk) limbah (tempat kalung di leher) dengan alat penyembelihan hingga masuk ke hati hewan, kemudian hewan tersebut mati dengan cepat. Alloh berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (Al-Kautsar: 2).

Sesuai dengan makna etimologinya, kata “wanhar” dalam ayat tersebut sebagai dalil untuk metode penikaman. Unta adalah hewan yang ter-masuk dalam metode ini dan ia tidak disembelih, karena Rasulullah r telah menikam unta dalam keadaan berdiri dan tangan kirinya diikat. (Lihat Shahih Bukhari no. 117, 119 dalam bab Haji)

Sedangkan sapi boleh disembelih dan juga ditikam, karena diriwayatkan bahwa Rasulullah r pernah menikamnya. Hal ini karena ia mempunyai dua tempat, satu untuk penyembelihan dan satu tempat untuk penikaman. (Lihat Al-Muwaththa’ no. 783 )

Cara Menyembelih dan Penikaman

Mengenai cara penyembelihan sebagai-mana yang sering kita lihat, yaitu setelah disiapkan alat penyembelihan yang tajam, hewan dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke kiblat. Kemudian penyembelih-nya berkata, ” بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ ” (dengan nama Alloh dan Alloh Maha Besar). Seketika itu juga, hewan tersebut dipotong kerongkongan dan dua urat lehernya.

Adapun cara penikaman adalah unta diikat dari tangan kirinya dalam keadaan berdiri, kemudian orang yang bersangkutan menikamnya di   limbahnya   sambil   berkata,  “Dengan  nama

Alloh dan Alloh maha besar”. Penikaman tetap ia lakukan hingga  nyawa  unta  tersebut  melayang, karena Abdullah bin Umar berkata ketika berjalan melewati seseorang yang menundukkan untanya untuk disembelih ia pun berkata, “Biarkan unta tersebut berdiri dalam keadaan terikat seperti sunnah Rasulullah r.” (Mutafaq ‘Alaih)

Syarat-syarat Keabsahan Dzakat

Mengingat penyembelihan termasuk perkara ibadah, tentunya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Semata agar tidak terjerumus kepada kesalahan, sehingga amalnya tidak berpahala atau bahkan malah menuai dosa. Di antara syarat-syarat keabsahannya adalah:

Pertama, alat sembelihan harus tajam, dalam arti dapat mengeluarkan darah, karena Rasulullah r bersabda, “Apa yang telah menumpahkan darah yang bukan tulang dan kuku, serta di dalamnya disebutkan nama Alloh maka makanlah”. (Muttafaq ‘Alaih)

Kedua, berdoa dengan berkata, “Dengan nama Alloh dan Alloh yang Maha Besar” atau hanya mengucapkan, “Dengan nama Alloh”. Hal ini karena Alloh telah menyatakan, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Alloh ketika menyembelihnya.” (Al-An’am: 21)

Ketiga, memotong  tenggorokkan atau kerongkongan dan dua urat leher dalam waktu yang sama.

Keempat, penyembelihnya harus orang muslim yang berakal, baligh, atau anak yang sudah mampu membedakan sesuatu. Penyembelih juga tidak apa-apa dari kalangan wanita, atau ahli kitab, karena allah  berfirman, “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu.” (Al-Ma’idah: 5)

Kelima, jika hewan tidak dapat disembelih, atau tidak dapat ditikam karena misalnya  jatuh ke sumur atau kabur, maka menyembelihnya diperbolehkan dengan melempar salah satu bagian tubuhnya dengan sesuatu yang menumpahkan darahnya. Karena ketika ada seekor unta yang kabur (talinya lepas), sedang orang-orang ketika itu tidak mempunyai kuda untuk mengejarnya, kemudian unta tersebut dilempar seseorang dengan anak panah dan unta tersebut pun terhenti karenanya. Rasulullah pun bersabda, “Sesungguhnya hewan-hewan tersebut mempunyai sesuatu yang menakutkan seperti sesuatu yang menakutkan  pada  binatang  buas, selagi binatang tersebut berbuat seperti itu, maka perbuatlah seperti itu.” (Muttafaq ‘Alaih). Para ulama menganalogikan (meng-qiyaskan) hal tersebut pada setiap hewan yang tenggorokannya atau limbahnya tidak memungkinkan untuk disembelih atau ditikam.

Catatan Penting yang Harus Diingat

Ada beberapa poin yang harus dicatat dalam masalah ini, antara lain:

Pertama, Penyembelihan anak hewan sudah termasuk dalam penyembelihan induk-nya. Oleh karena itu, anak hewan tersebut sebaiknya dimakan jika penciptaannya telah sempurna dan rambutnya telah tumbuh. Karena Rasulullah r memerintahkan, “Maka-nlah anak hewan tersebut jika kalian mau, karena penyembelihannya adalah penyembe-lihan terhadap induknya.” (HR. Ahmad, 3/31, Abu Dawud, 2827 dan Ibnu Majah, 3199).

Kedua, lupa membaca basmalah itu tidak mempengaruhi penyembelihan atau penika-man, karena umat Muhammad tidak dihukum karena lupa. Ujar Rasulullah, ”Kesalahan, lupa, dan sesuatu yang di paksakan kepada seseorang itu semua dihilangkan dari umatku.” (HR. Thabrani dengan sanad shahih).

Ketiga, berlebih-lebihan dalam menyem-belih hingga memotong kepalanya adalah perbuatan tidak baik, namun dagingnya boleh dimakan tanpa makruh (dibenci).

Keempat, jika penyembelih salah tinda-kannya, misalnya ia menikam hewan yang harus disembelih atau menyembelih hewan yang seharusnya ditikam, maka daging hewan tersebut boleh dimakan namun makruh.

Kelima, jika hewan sakit, tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk, atau dimakan binatang buas, namun masih hidup kemudian mati karena penyembelihan dan bukan karena sakit, maka boleh dimakan. Karena dalam firman-Nya, Kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. (Al-Ma’idah: 2), maksudnya kalian masih mendapatinya hidup kemudian kalian menumpahkan darahnya dengan salah satu alat penyembelihan.   Wallahu a’lam. [Red.]

Ref: – Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

– Software Kutubut Tis’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s