Makmum Shalat Jama’ah

Dalam pembahasan shalat jama’ah yang lalu penulis telah menyampaikan sebuah hadits yang memerintahkan agar shalat yang kita kerjakan harus sama sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah r. “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!” Perintah ini berlaku baik ketika sendiri (shalat sunnah), menjadi imam atau ketika menjadi makmum. Jadi, barometer kebenaran shalat kita harus bedasarkan dalil, bukan berlan-daskan ikut-ikutan (taqlid buta) semata. Secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan seorang imam telah dibahas pada edisi terdahulu. Dan pada kesempatan kali ini, penulis mencoba membahas beberapa perkara yang berkaitan dengan makmum. Antara lain: Wajibnya Mengikuti Imam Seorang makmum wajib mengikuti imam, haram mendahuluinya dan makruh bergerak bersamaan dengannya. Rasulullah r bersabda: “Wahai manusia, sesungguhya aku adalah imam kalian maka janganlah mendahuluiku saat ruku, sujud, berdiri, duduk dan ketika bubar (setelah salam) dari shalat!” (HR. Muslim dan Ahmad) Jika makmum mendahului imam dalam takbiratul ihram, ia harus mengulang takbiratul ihramnya, dan jika tidak mengulanginya maka shalatnya batal. Jika ia salam sebelum imam shalatnya batal. Jika ia mendahului imam dalam ruku’ atau mengangkat kepala dari ruku’ atau sujud, maka ia harus kembali pada posisi imam agar ia bisa ruku’ dan sujud setelahnya. Itu semua karena Nabi r telah brsabda, “Sesungguhnya imam itu ditunjuk untuk diikuti maka jangan berbeda dengannya. Jika ia telah bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Jika ia telah ruku’ maka ruku’lah kalian. Jika ia berkata ‘Sami’allahu liman hamidah,’ katakanlah, ‘Allahuma rabbana lakal hamdu’. Jika ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian semua dengan duduk.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan Nabi r mengancam orang yang mendahului imam ketika shalat dengan sabdanya, “Tidaklah salah seorang dari kalian takut jika ia mengangkat kepalanya sebelum imam maka Alloh merubah kepalanya seperti kepala keledai, atau Alloh merubah bentuknya seperti bentuk keledai.” (Mutafaq ‘alaih) Bacaan bagi Makmum Bacaan tidak diwajibkan bagi makmum pada shalat-shalat jahriyah. Baik bacaan Al-Fatihah maupun surat-surat yang lainnya. Hal ini karena Rasulullah r telah bersabda bahwa, “Barang siapa mepunyai imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya“ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah yang men-Shahihkannya). Dan disunnahkan bagi makmum supaya diam, karena diamnya makmum untuk mendengarkan termasuk kesempurnan bermakmum. Alloh I memerintahkan, “Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204) Tentang ayat ini Ibnu Katsir mene-rangkan, “Ketika Alloh menyebutkan sesungguhnya Al-Qur’an adalah saksi, petunjuk dan rahmat bagi manusia, maka Alloh memerintahkan untuk diam ketika ia dibacakan sebagai peng-agungan dan pemuliaan baginya. Tidak sebagaimana yang dilakukan orang-orang musyrik Quraisy yang menga-takan: ‘Janganlah kamu men-dengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat me-ngalahkan mereka.’ (Fushshilat: 26). Bahkan lebih ditegaskan lagi ketika shalat wajib yang imamnya membaca dengan suara keras, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari, ‘Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir, maka bertakbirlah. Jika ia membaca, maka diamlah’.” Namun jika dalam shalat siriyah (membaca tanpa suara), maka makmum wajib membaca surat Al-Fatihah sendiri. Jabir berkata, “Kami dahulu membaca sendiri Al-Fatihah dan surah lain di belakang imam dalam shalat Dzuhur dan Ashar pada rakaat pertama dan kedua, sedangkan pada rakaat ketiga dan keempat hanya membaca Al-Fatihah.” Bacaan ‘Sami’allahu Liman Hamidah’ Ketika shalat jama’ah kalimat ’sami’allahu liman hamidah’ hanya diucapkan oleh imam. Sedangkan makmumnya langsung mengucapkan ‘Allahuma rabbana lakal hamdu’. Hal ini berdasarkan sabdanya, “Imam tidak lain dijadikan untuk diikuti … Bila dia mengucapkan سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَه hendaklah kalian mengucapkanاللّهُمَّ رَبَّـنَا َلَكَ الحَمْدُ . Alloh mendengar kamu sekalian, karena Alloh, Tuhan yang maha mulia dan maha tinggi telah berfirman melalui lisan nabi-Nya: “Alloh mendengar orang yang memujinya’.” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah, Ahmad dan Abu Dawud) Mengenai alasan diperintahkan yang demikian adalah, فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Maka barang siapa yang ucapannya bertepatan dengan ucapan malaikat maka dosanya yang telah lampau diampuni.” (HR. Bukhari) Meluruskan Shaf Termasuk penopang kesempurnannya shalat adalah meluruskan shaf (barisan). Nabi memerintahkan, سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ. “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk dari sempurnanya shalat.” (HR. Muslim) ‘Meluruskan shaf’ dalam hadits ini bukanlah berarti meluruskan antara hati dengan seluruh anggota badan sebagaimana yang diyakini orang Sufi. Namun berarti lurus secara dzahirnya, yaitu jika para makmum sudah menghadapkan telapak kakinya ke arah kiblat dan saling menempelkan mata kaki, betis dan bahunya. Karena yang demikian itulah yang menjadi tolak ukur sebuah shaf bisa dikatakan telah lurus. Sebagai-mana dalam hadits riwayat Bukhari bahwa Rasulullah r bersabda, “Lurus-kanlah shaf kalian karena Aku melihat kalian dari punggungku.” Anas bin Malik t berkata, “Dan salah seorang dari kami menempelkan bahunya dan bahu temannya juga telapak kaki dengan telapak kaki temannya.” Adapun cara merapatnya adalah ke porosnya, yaitu ke arah makmum yang berdiri tepat di belakang imam. Sehingga yang berdiri di tengah tetap diam dan yang sebelah kanan imam bergeser ke kiri dan yang berdiri di sebelah kiri imam bergeser ke kanan. Begitupun jika mau membuat shaf baru maka dimulai dari tengah dan dilanjutkan di sebelah kanan dan kirinya dengan seimbang. Pun harus diketahui bahwa melu-ruskan shaf juga memiliki banyak keutamaan. Diantaranya para malaikat akan memberikan shalawat (do’a) kepada para jama’ah. Sebagaimana dalam sabdanya, “Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya akan senantiasa bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf-nya.” (HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban) Juga “Barang siapa yang menutup suatu celah dalam shaf, niscaya Alloh akan mengangkatnya satu derajat dan membangunkan baginya sebuah rumah di jannah.” (HR. Thabrani dalam kitab Ausath). Wallahu a’lam Ref: – Minhajul Muslim, Jabir Al-Jaza’iri – Fiqih Sunnah, Sayid Sabiq – Sifat Shalat Nabi, Syeikh Albani – Shoftware Maktabah Syamilah

One thought on “Makmum Shalat Jama’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s