Bocah Pengukir Ketapel

Purnama menari di atas kepekatan. Menyepuh malam dengan jingganya. Menudungi kawasan negara peninggalan kebudayaan kuno. Kebudayaan warisan Fir’aun. Terhiasi oleh deretan rumah-rumah berbentuk kubus bercat debu dengan dindingnya yang sudah retak-retak. Taraf kehidupan mereka sederhana. Sebagaimana umumnya penduduk Mesir. Tak ada bangunan yang mencolok. Hanya di beberapa wilayah tertentu saja. Semacam di kawasan-kawasan elit Ma’adi, Heliopolis dan lainnya, yang suasananya terlihat lebih mewah dan modern.

Tepatnya di kawasan Aswan yang terletak 904 km dari Kairo, terdapat sebuah rumah yang duhuni sebuah keluarga dengan dua anak yang semuanya laki-laki. Ia adalah kota tujuan wisata musim dingin yang memiliki panorama alam sangat indah. Di sini terdapat bendungan terbesar di dunia, Bendungan Tinggi Aswan, yang dibangun untuk menjaga Mesir dari banjir besar dan menjadi simbol kehebatan arsitektur abad 20. Panjang bendungannya 360 meter, dengan ketinggian 111 meter dari dasar sungai. Lebarnya mencapai 40 meter. Ada juga danau Nasser, yang memanjang lebih kurang 500 km, dengan lebar rata-rata 10 km, terbentuk dari saluran Bendungan Aswan. Salah satu peninggalan Mesir Kuno di Aswan yang paling terkenal adalah Kuil Abu Simbel, di ujung wilayah Mesir, atau 1184 km dari Kairo. Kuil ini dibangun oleh Ramses II, tingginya 33 meter, lebar 38 meter dan dijaga oleh empat patung raksasa Ramses II denga ketinggian masin-masing 20 meter.

Kakanya masih studi di fakultas Syariah Universitas Islam tertua di dunia, Al-Azhar. Sedangkan adiknya masih duduk di sekolah dasar. Umurnya baru sepuluh tahun tapi ia sudah hafal sekitar 10 juz dari Al-Qur’an. Pondasi ilmu dien yang kokoh dalam diri anggota keluarga itu menjadikan rumahnya tak sesederhana bentuknya. Suasannya terkesan asri karena keramahan penghuninya. Walau terkadang mereka terlalu over dalam mujamalah[1] ketika bertemu dengan temannya.

Menapakkan kaki di rumah itu terasa seperti masuk dalam rumah mewah yang serba wah. Walaupun sempit tapi terasa lapang. Suasananya setenang rumah Nabi. Bagi mereka, rumahnya adalah jannahnya.

Rumah tangganya harmonis. Maka tak ada agenda mecah piring dan banting pintu. Tak ada juga rutinitas puasa diam dalam kesehariannya. Komunasi mereka terajut oleh tali agama yang kuat. Seperti kebanyakan penduduk Mesir.

Dalam rumah itu hanya terdengan lantunan Al-Quran, tidak terdengar alunan-alunan setan yang melenakan. Tak ada obrolan kedurhakaan. Lengang dari pendidikan ala barat yang menyimpang dari norma-norma keislaman. Walau westernisasi semakin gencar di negara itu. Serial cerita yang disuguhkan oleh orang tuanya adalah kisah-kisah heroik perjuangan para sahabat Nabi dan pejuang-pejuang Islam yang gagah berani. Dan salah satunya adalah cerita tentang anak-anak pengukir sejarah dengan darah di negeri terjajah, Palestina.

“Sayang, kamu tahu kapan Israel akan berhenti menjajah Palestina?” Sang ibu membuka ceritanya sambil menatap penuh kasih sayang.

Ia menggeleng.

Ia duduk di atas kursi samping meja belajarnya yang juga difungsikan untuk meja makan. Di depannya bertumpuk buku pelajaran. Matanya terlihat sayu. Pelajaran untuk besok sudah ditelaah semua. Orang Mesir memang terkenal dengan kegemaran membacanya.

“Sampai mereka mengikuti agamanya atau berhenti melawan para Zionis terlaknat itu?” Hal-hal seperti itu sengaja ia tanamkan sejak dini agar aqidah al-wala’ wal baro’-nya menghunjam kuat dalam keyakinanya. Karena ia faham, poin inilah yang menjadikan kesempurnaan laailaha illaloh bagi yang mengaku mukmin.

“Tepatnya kapan?” Rupanya ia belum faham maksudnya.

“Sampai hari kiamat.”

“Kalau begitu kenapa nggak menyerah saja biar tidak perang terus.” Celoteh anaknya lagi.

“Kamu mau jika tiba-tiba mereka datang ke sini, lalu mengobrak-abrik rumahmu. Terus bapakmu dubunuh di depan matamu dan ibumu juga dizinai?”

Ia menggeleng. Berontak.

“Mereka sudah mengalami hal itu. Mereka tidak akan pernah berhenti melawan.”

“Sayang, mau tahu cerita keberanian anak-anak negeri yang disucikan itu?”

Ia mengangguk. Tapi kemudian kepalanya tergeletak di atas meja. Kelopak matanya tertutup lalu terbuka lagi dan tertutup lagi. Ternyata beban berat telah menggantung di kelopak matanya. Rasa kantuk mulai menyerangnya.

Orang tuanya sengaja tidak membelikannya TV. Bukan karena tidak mampu, tapi karena ia sadar benda itu hanya akan membuatnya bodoh. Maka alternatifnya, ia harus sering membelikan buku cerita atau bercerita untuknya. Dan menurutnya, ternyata yang seperti inilah yang menjadikan anak kecil jaman dahulu lebih cerdas dan kreatif. Karena sejak kecil otaknya sudah dirangsang untuk berimajinasi memahami cerita. Sedangkan jika nonton TV tidak mungkin akan seperti itu. Karena semuanya sudah tervisualisasi di hadapannya.

“Yaa Bunayya.”[2] Ia kembali menyapa anaknya.

Tapi anaknya tidak merespon. Ia tetap bergeming. Tenyata ia sudah berimajinasi lebih jauh menerobos negeri antah berantah. Ia meninggalkan ibunya. Meninggalkan dunia untuk sementara.

###

Nama anak itu Muhammad Asadullah Al-Aswani. Gabungan dua nama orang yang dicintai. Nama Rasulullah dan julukan pamannya, Hamzah bin Abdul Muthallib. Orang tuanya berharap agar nama itu bukan sekedar nama. Tapi ia menjadi do’a yang akan mengantarkannya pada kahidupan yang dijanjikan.  Ia ingin jika anaknya menjadi seperti Hamzah sang singa Allah. Ia diharapkan bisa mensyafaati karena kesyahidannya nanti.

Dia tidak seperti anak-anak Mesir kebanyakan. Usai sekolah ia pergi mencari kayu. Bukan untuk dijadikan kayu bakar tapi untuk dibuat ketapel. Pisau kecil terselip di pinggangnya sebelah kiri. Dan sebuah ketapel terkalung di lehernya. Ketika sudah bosan mengukir ketapel-ketapelnya, ia akan mengambil kerikil. Terus menaruhnya di kulit ketapelnya. Lalu ia mencoba membidik sasaran.

“Asad, jangan main ketapel terus! Cepet pulang, shalat ashar dulu.” Tegur ayahnya. “Jangan ikuti kebiasaan kaum Lut!” Larangnya sambil menuntunnya menuju rumah.

“Kata abi kita harus mempersiapkan diri melawan Zionis?” Kelitnya. “Saya kan lagi latihan biar tepat sasaran.”

“Oo…gitu, ya dah nggak apa-apa. Tapi sebentar lagi azan. Lanjutkan latihannya lagi nanti.”

“Bi, kapan paman pulang? Saya pengin mendengar cerita seru dari paman.”

Sudah hampir tiga bulan pamannya pergi ke Palestina. Kabar terakhir ia sudah menjadi anggota inti pasukan Brigade Al-Qosam. Dan pertanyaan seperti itu sudah sekian kali terlontarkan dari mulutnya. Ia ingin mendengar kisah-kisah bocah pengukir sejarah dari mulut orang yang telah menyaksikannya langsung.

Sebenarnya koleksi ketapelnya sudah banyak. Dengan berbagai model dan ukuran. Ia susun ketapel itu dengan rapi di dinding kamarnya. Setiap keluar rumah ia akan membawa satu ketapel untuk dikalungkan di lehernya. Ke manapun ia pergi. Kecuali ketika pergi ke sekolah, ia akan memasukannya di dalam tas.

Rupanya ia terobsesi oleh cerita ibunya tentang perjuangan anak-anak Palestin yang hanya menggunakan batu dengan bantuan ketapel untuk menyerang Zionis yang bersenjata lengkap. Ia ingin seperti anak-anak pengukir sejarah itu.

###

Umi, katanya mau cerita tentang anak-anak Palestin?”  Ia mencoba menagih janjinya.

“Tadi malam mau diceritan malah kamu ketiduran dulu.”

Al’an yaa ummi.”[3] Ia memberikan solusi.

Bocah itu kemudian memutar badannya untuk menyimaknya dengan takzim.

“Kamu tau si pemberani Faris Audah sayang?” Seperti biasa, ibunya selalu membuka cerita dengan pertanyaan. Ia mencoba seperti Rasulullah yang ketika hendak memberi wasiat kepada Muadz tentang hak Allah dan hamba-Nya, beliau buka dengan pertanyaan dulu.

Ia menggeleng.

“Seorang yatim yang umurnya belum genap empat belas tahun. Dia sangat benci dengan orang Yahudi. Selama empat puluh hari berturut-turut ia ikut berperang melawan bangsa kera itu.”

“Siapa bangsa kera, mi?” Selanya memotong cerita.

“Ya orang-orang Yahudi. Kan nenek moyangnya dulu pernah dikutuk oleh Alloh menjadi kera karena melanggar hari Sabtu. Alqur’an menyebutnya sebagai ashabus sabti.”

Ia manggut-manggut.

“Terus lanjutan cerita gimana mi?”

“Senjatanya hanya dengan batu. Teman-temannya ada yang menggunakan ketapel.”

“Bagus mana sama ketapelku mi?” Ia menyela lagi.

“Bagus punyamu sayang.” Sahutnya.

Ia tersenyum bangga. “Terus?”

“Ia pernah berdiri hanya beberapa meter dari tank Israel itu sambil melempari batu.”

“Nggak tertembak mi?”

“Alhamdulillah waktu itu selamat. Tapi suatu saat, di hari yang keempat puluh dari perangnya itu, ia tertembak oleh seorang sniper.”

“Mati mi?”

“Iya, dia mati syahid insya Alloh.”

“Ada yang lain mi?”

“ Ada. Namanya Wajdi. Ia juga sangat pemberani. Tapi pada suatu saat ia tertembak kepalanya.”

“Mati lagi mi?” Tanyanya antusias.

“Alhamdulillah ada yang menolongnya dan akhirnya selamat. Tapi ia kehilangan penglihatannya.”

“Yang lain lagi?”

“Masih banyak. Ada Nizar Abduh, Muhammad Audah, Amru Faruq Khalid. Mereka semua meninggal karena peluru-peluru Yahudi terlaknat itu. Mereka mati syahid insya Allah.”

Kali ini ia tidak terlihat ngantuk. Ia terlalu semangat untuk mendengarkan cerita uminya itu.

“Udah, istirahat dulu. Katanya besok mau ulangan. Biar nggak kesiangan.”

“Iya mi. Besok cerita lagi ya mi.”

Aiwa.[4] Insya Alloh.”

###

Sebelum berangkat sekolah……

Saat fajar menyapa, ia menggulung selimutnya. Karena ia akan kena damprat jika membantah aturan dari ayahnya. Tepatnya bukan aturan ayahnya, tapi aturan dari Rabbnya. Setelah berdo’a ia langsung ke toilet ambil wudhu lalu ikut ayahnya ke masjid. Pulang dari masjid juga akan kena damprat jika tidur lagi. Maka ia ambil mushaf untuk tilawah atau mengulang-ulang hafalan bersama ayahnya. Dilanjutkan dengan belajar pagi, persiapan ke sekolah; mandi, sarapan, memakai seragam dan lainnya. Ketika hendak berangkat ke sekolah ia tidak akan lupa memilih ketapelnya lalu dimasukkan ke dalam tas.

Di Sekolah….

Ia sering larut dalam cerita-cerita heroik. Seputar perjuangan para pendahulunya, kisah para nabi dan rosul. Tak ketinggalan juga kisah-kisah para bocah pengukir sejarah yang biasa diceritakan oleh ibunya.

“Kamu tahu Faris?” Ia bertanya pada temannya. Gaya ibunya masih terekam kuat dalam memorinya.

Mereka menggeleng. “Kalau Paris yang ada menara Eifelnya saya tahu.” Sahut salah satu temannya.

Mereka yang sudah terjangkiti virus hedonis, akan lebih sering mengkonsumsi cerita ke-barat-an. Dan bahkan sampai lupa dengan keadaan umat Islam yang tengah berkecipak dalam kancah perjuangan. Apalagi dengan anak-anaknya.

“Bukan Paris, tapi Faris.” Ia memperjelas pertanyaanya lagi. “Anak Palestina yang mati ditembak oleh tentara Israel.”

Beberapa dari mereka ada yang masih menggeleng. Sebagiannya ada yang teringat. “Faris yang sempat melempari batu sambil berdiri beberapa meter dari tank Israel? Aku pernah melihat fotonya.”

Ia mengangguk.

Sepulang dari sekolah….

Kali ini ia tidak pergi mencari kayu. Karena rencananya akan membuat ketapel di rumah. Kayu yang ia dapatkan kemarin belum sempat dijamah. Satu ketapel sang sempat dibuat beberapa hari yang lalu belum dirampungkan. Belum sempat dihaluskan juga belum diberi karet. Masih dalam bentuk kayu saja.

Maka setelah ganti baju ia langsung mencari bahan dan peralatan yang biasa menemaninya saat menekuri rutinitasnya.

“Umi, mana kayu yang aku taruh di samping lemari itu?” Ia bertanya dengan nada agak tinggi. Ibunya berada beberapa meter darinya.

“Kayu yang mana?”

“Itu yang sebesar lenganku.”

“Oo…itu, sudah saya jadikan kayu bakar tadi.”

“Yah umi…, kenapa nggak tanya aku dulu? Kan kayu itu mau dibuat ketapel.”

“Lho kan ketapelnya sudah banyak? Masa mau buat ketapel terus? Mau buat apa?”

“Umi, ketapel itu akan saya bagikan ke temannya Faris kalau aku ke Palestina menyusul paman nanti.” Ia menjelaskan. “Pokonya umi harus cari gantinya.” Lanjutnya sedikit muntab.           Ia kembali ke kamarnya dengan mengusung kekecewaan di hatinya.

By. Faqih Adz-Dzaky


[1] . Basa-basi

[2] . Wahai anakku.

[3] . Sekarang saja umi

[4] . Iya

One thought on “Bocah Pengukir Ketapel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s