Dende Fatimah

Berugak tua berbentuk rumah panggung tak berdinding yang beratap genteng lumutan itu teronggok kokoh di samping gedongan kecil bercat putih. Di pojoknya duduk seorang renta sambil bersandar di tiang jati penyangga atap berugak. Kulit keriputnya semakin kentara. Berambut pudar seperti belantara tersapu wedus gembel. Sebatang rokok berpilin kertas papir terselip dalam jemarinya. Sesekali ia hisap. Sambil memejamkan matanya. Lantas dikepulkan melalui lubang hidungnya. Berpendaran. Ia tengah menikmati ribuan racun dalam batang putih itu. Ia menzalimi dirinya. Ia sama sekali tak takut dengan ribuan penyakit yang menunggunya. Padahal umurnya di ujung zaman.

Rumah gedong tersebut juga beratap genteng lumutan. Berpintu satu di timur tak berdaun. Memiliki tiga undakan untuk bisa mencapai dalam. Di kanan-kiri gedong berdiri tegap menjulang pohon tua berumur ratusan. Besarnya lebih dari lingkar tangan dewasa. Pohon johar dan lekong, demikianlah masyarakat setempat menyebutnya. Di dalam gedong itu adalah kuburan keramat berbeton. Beberapa teko berisi air berserak di atasnya. Itulah kuburan Dende Fatimah. Dan air di dalam teko itu dipercaya bisa membuat awet muda bagi yang membasuh mukanya. Meski sebenarnya tak bisa diuji coba. Karena hanya mitos belaka.

Kuburan keramat itu dipagari dinding bata tua berlumut setinggi dua meter. Pintu depannya berposisi tinggi. Sebuah burung berekor panjang terpahat dalam daun pintu percorak has kerajaan. Ratusan tahun umurnya. Bercat merah juga berlumut. Untuk bisa melewati pintu itu dibuat undakan semen. Dilihat dari luar serupa pintu pura tak sempurna. Terpangkas atas.

“Assalamualaikum.” Ujar perempuan berjilbab besar saat berada di mulut pintu pagar. Warna merah tuanya membuat dirinya semakin berwibawa. Slayer warna kuning menutupi mukanya. Terlalu mahal baginya untuk sekadar berbagi aura. Karena akan dipersembahkan buat suaminya saja. Jika takdir telah menyapa. Kelak.

Puk!” Sapanya malu-malu kepada Pak Tua yang didepannya. Ia duduk di salah satu pojok berugak. Juga bersandar di salah satu tiangnya. “Boleh tiang nanya sesuatu?” lanjutnya.

“Nanya ape?” Pipi keriputnya bergetaran. Seumpama gelombang laut yang berkejaran.

Papuk tahu sejarah kuburan ini?” Jarinya menunjuk ke rumah gedong di sebelahnya.

“Kuburan Dende Fatimah?”

Aok.” Ia mengangguk. “Dulu asal usulnya gimana? Kenapa sampai dikeramatkan?”

Ia menggeleng.

“Sekarang sudah nggak ada lagi yang tahu tentang sejarah awal mula dikeramatkannya kuburan ini. Apa lagi saya, yang lebih tua dari saya pun nggak tahu.”

“Kalau umurnya sudah berapa tahun?” Ia kembali bertanya.

“Sudah ratusan tahun. Dulu belum ada rumahnya. Cuma batu-batu yang di bawahnya itu saja.” Papuk itu menunujuk ke peondasi rumah gedong. Terbuat dari susunan batu kali lonjong. Tersusun rapi.

“Selama Papuk menjaga kuburan ini sudah mengalami kejadian aneh belum?” Rasa ingin tahunya membuat mulutnya tak henti bertanya. Ia sangat haus informasi. ”Atau pernah ketemu langsung mungkin?” Ia melanjutkan investigasinya.

“Pernah.” Jawabnya mantap.

“Gimana rupanya Puk?”

“Rambutnya panjang dan wajahnya cantik. Keluarnya hanya waktu-waktu tertentu saja. Hanya orang-orang yang beruntung saja yang bisa melihatnya.”

“Di mana Papuk ketemu?”

“Ya di sini. Di depan pintu itu.” Ia kembali menunjuk ke gedong putih pudar. “Saat itu ia sedang menyisir rambutnya.” Lanjutnya dengan sangat yakin.

“Bukan lagi mimpi kan Puk?”

“Nggak. Aku dalam keadaan sadar. Bukan pas lagi mimpi.”

“Terus apa dia bilang?”

“Ia menawariku emas dalam bentuk bermacam-macam.” Wajahnya sumpringah.

“Contohnya?”

“Ada yang bentuknya kalung, piala, mahkota, cincin dan macam-macam yang lainnya lagi.”

Hening sejenak. Tak ada kata-kata dari kedua pihak. Hanya ada nyiur gesekan daun-daun jarak. Dan suara semilir angin yang menerobos ke sela-sela nisan dalam hamparan kubur hektaran. Sangat luas. Dan keduanya, masih serius dengan obrolannya yang tak berjeda.

&&&

Siang tak berkernyit. Bulir bening sejagung mengucur deras. Dari pori putih berbalut jilbab mungil. Ia semampai dengan leher jenjang. Menyembul rambut panjang di punggung. Melawan kerudung gaul warna putih yang menempel di kepalanya. Dia masih SMA. Masih belia. Namanya Laila. Setiap hari ia harus menyusur aspal buram pinggiran kubur. Pulang-pergi ke sekolahnya. Kondisi jalannya sudah terkelupas. Timbul lubang berserak. Memaksa kusir-kusir motor menghindar. Dari lubang-lubang jalan itu. Dan mencari aspal yang masih nempel.

Ia masih menyeret kakinya berlahan. Menuju rumahnya. Sepulang dari sekolah. Namun tiba-tiba mulutnya tercekat. Kakinya terhenti. Dan jemarinya meremas keras. Ia kelimpungan. Kebingunan. Salah tingkah. Saat seorang perempuan menghampirinya. Menawarkan suatu kemewahan dengan sebuah persyaratan.

“Mintalah apa saja kepadaku pasti kuberikan!!” Desaknya.

“Maksudnya?” Laila kaget.

“Ya, aku akan mengabulkan semua permintaanmu.” Ia mencoba merayu.

“A…a..ku masih be…be..lum faham!!” Badannya semakin bergetar.

“Aku Dende Fatimah. Minta saja semua yang kamu inginkan kepadaku akan kuberikan.” Ucapannya kembali dipertegas.

“I..iiiaa…” Bibirnya gemetaran. Hampir mati berdiri.

“Tapi ada syaratnya.” Ujar Dende Fatimah.

“Apa itu?” Ia penasaran.

“Kamu tidak boleh mencukur rambutmu.”

“Kalau sudah terlalu panjang?” Ia mencari-cari alasan.

“Bukankah Islam melarang seorang perempuan mencukur rambut?”

Ia mengangguk. Merasa ada sebuah legitimasi mencuat. Yang membenarkan persyaratan yang diajukan. Walau sebenarnya tetap disanksikan. Karena ia bukan Tuhan. Dende Fatimah pun menghilang. Tak tahu rimba ke mana. Keberadaannya memang misterius. Benarkah ia arwah dari sebuah jazad yang dikeramatkan itu? Ataukah sebenarnya jin yang menyamar? Ia bimbang. Tak tahu hendak memilih. Tidak ada ilmu yang bisa meyakinkan. Ia orang awam.

&&&

Dua Belas Tahun yang Lalu . . . . .

Ah, aku jadi manyun saat melihat aksi heboh misanku. Saudara sepupuku itu bak Wira Sableng yang kehebatannya tak tertandingi oleh siapapun. Dan hari ini sosok itu tiba tiba muncul di hadapanku. Jika ia mencoba merubah rumahnya sebagai padepokan, pasti orang-orang yang hendak bersekutu dengan syetan itu berbondong-bondong mendaftarkan diri.

Namun di luar dugaan, ilmu kanuragan yang ia tekuni selama ini malah membuatnya seperti orang gila. Kini ia seumpama robot yang dikendalikan oleh sebuah sistem. Dan sistem itu adalah jin-jin yang ada dalam dirinya. Sekarang ia suka berulah. Berhari-hari hanya mengeluarkan jurus-jurusnya yang tidak karuan. Dari jurus harimau, elang dan bahkan jurus monyet. Dan ia pun berubah laksana hewan-hewan itu. Setiap yang mengaku hebat ditantang. Tapi semuanya kalah. Dan aku termasuk dari yang kalah itu. Beberapa meter ketika aku mendekatinya malah terpental terlebih dahulu. Dia memang kuat. Tetapi tidak waras.

Ucapannya juga ngelantur. Sering ngeluyur entah kemana. Jika ditanya jawabannya pun sangat enteng. Habis dari sini lah, dari situ lah. Pergi sama ini lah, pergi sama itu lah. Serba tak karuan. Ia benar-benar gila.

“Eh makan dulu sana!” Sergahku.

Ndek. Wah bekelor. Dah kenyang.”

“Makan di mana emangnya?” Aku penasaran.

“Makan di tempatnya Dende Fatimah.” Ia tak merasa bersalah sedikit pun.

“Hah…beneran ni?” Aku kaget. Langsung berdiri dari tempat dudukku. Reflek.

“Ya benerlah nyak. Masak aku bohong.”

“Pake apa ikannya?”

“Pakai daging babi. Hemmm…enak sekali rasanya.” Mulutnya sambil dikecap-kecap.

“Hah… daging babi!! Apa aku nggak salah dengar?” Aku tambah kaget. Seperti tersambar petir di siang bolong.

Ia tambah aneh. Keluargaku sampai bingung mencari obatnya. Berbagai rumah sakit sudah disambangi. Hasilnya tetap nihil. Puluhan dokter sudah dikunjungi. Ia tetap saja dengan keadaannya. Gila.

“Pak, sebenarnya ada nggak sih Dende Fatimah itu?”

“Ndak. Ndak ada. Itu cuma mitos.”

“Kok bisa pak?” Aku masih menyangkal. “Kok orang-orang pada percaya kalau itu kuburannya Dende Fatimah?”

“Sebenarnya kuburan itu nggak ada mayatnya. Dulu cuma ada bekas telapak kaki saja di sana. Yang kemungkinan itu bekas telapak kakinya seorang wali. Namun masyarakat setempat mengkeramatkannya. Kemudian menjadikannya kuburan. Sama seperti di Batu Layar. Itu cuma bekas telapak kaki saja.”

“Kok selama ini nggak ada yang ngomong seperti itu.” Aku masih penasaran.

“Kalau ada yang ngomong seperti itu nanti jadi masalah. Bahkan bisa jadi timbul peperangan. Karena itu sudah menjadi adat yang mendarah daging. Jadi susah dihilangkan.”

“Ow gitu ceritanya.” Aku manggut-manggut.

“Terus giman dengan misaku itu?”

“Ah aku masih belum percaya. Kalau ada jin di dalam tubuhnya.”

Ayahku memang tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mitos. Ketidakpercayaan itu juga membuatnya berat untuk meng-iya-kan kalau di dalam badan keponakannya itu bersarang makhluk halus. Karena memang ia tidak percaya dengan istilah makhluk halus.

Aku pun bingung. Antara membenarkan pendapat ayahku bahwa kuburan Dende Fatimah itu hanya sekedar mitos, tapi aku juga yakin bahwa kejadian yang menimpa misanku itu bukan mitos. Itu sebuah kenyataan. Sebuah teka-teki yang belum bisa kupacahkan. Aku harus mencari jawabannya. Harus!!

&&&

Dua Belas Tahun Kemudian . . .

            Teras rumah bercat putih bersih itu terlihat tenang. Setenang angin sore yang berhembus berlahan. Aku masih asyik membaca buku. Buku mini yang sangat menggugah. Menurutku. Ya Allah Aku Tak Ingin Sendiri, itulah judul bukunya. Karena memang saat ini, aku tengah menunggu pujaan hati yang tak kunjung menghampiri. Aku menjadi kalut. Kapankah? Semua masih misteri. Benarkah ini salahku atau salah orang tuaku? Ataukah karena suratan takdir yang harus aku jalani. Aku hanya bisa pasrah. Tak bisa menyalahkan siapapun.

“Assalamu alaikum.” Suara itu tiba-tiba memecahkan kekhusyuanku dalam membaca. Seorang remaja seusia SMA.

“Waalaikum salam. Laila ya? Ayo masuk.” Kulambaikan tangan ke arahnya. Sebuah isyarat mengajaknya masuk. “Ayo duduk di sini. Jangan malu-malu.”

“Gimana kabarnya Mbak?” Sapanya. “Ini mbak Fitri kan?”

“Iya. Emangnya kenapa?”

“Beneran ini side mbak?” Ia heran.

“Masa’ nggak percaya sih?” Aku tersenyum. “Apa perlu bukti?” Lanjutku meyakinkan.

“Nggak perlu Mbak. Aku percaya kok. Tapi sejak kapan berubah wujud seperti ini Mbak?”

“Eh ngawur kamu!” Aku meninggalkannya di teras. “Saya bukan berubah wujud, tapi berubah menjadi yang lebih baik. Karena aku orang Islam jadi harus islami.” Terangku sambil menghidangkan teh manis di hadapannya. “Apa mau kopi?”

“Hih kopi. Emang aku pecandu kopi?”

“Sudah bukan orang Lombok lagi ni ceritanya? Sehingga lupa dengan kegemaran orang Lombok. Jangan-jangan sudah berubah selera rasa juga ni? Nggak lagi suka yang asin pedes. Tapi berubah jadi yang manis pedes.”

Dulu ia tetanggaku. Waktu kecil aku sering menggendongnya. Saat kelas lima sekolah Dasar orang tunya pindah tugas ke Jawa. Sehingga ia harus mengikutinya. Hanya sesekali saja ia ke Lombok. Saat liburan panjang. Namun di pertengahan SMA ia kembali ke Lombok. Kemudian menetap dan menjadi tetanggaku lagi.

“Eh Mbak, emang selama ini Mbak nggak islami ya?”

“Gimana mau dikatakan islami, pakainnya aja masih sempit-sempit gitu. Benjolan-benjolannya kelihatan semua. Pakai kerudung sih pakai kerudung. Tapi sekedar nempel di kepala doang.”

“Terus kapan mulai pakai jilbab besar gini?”

“Sekitar satu tahun yang lalu.”

“Kenapa aku tidak tahu?”

“Yeee. Masak aku harus laporan dulu ke Laila. Lagian side kan juga baru datang dari Jawa. Dan dua tahun terkhir ini g pernah ke lombok.”

“Ia juga sih. Hehe…”

“Nggak pernah ngedrak lagi mbak?”

“Kamu ini ada-ada saja. Masa’ udah jadi akhwat masih suka ngedrak.”

“Tapi tu motornya masih mbak.” Ia menunjuk motorku yang tengah bertengger di depan rumah. Motor yang telah dimodifikasi pada saat masih aktif bergabung dengan geng motor dulu.

“Buat kenang-kenangan.” Jawabku enteng. “Terus sekarang ngapain ke sini? Tumben.” Aku berusaha menyelidik.

“Mau nanyain Mbak udah nikah belum.”

“Mau tahu aja. Emang mau ngasih kado apaan?”

“Eh bukan itu ding maksudku. Aku cuma mau cerita kejadian-kejadian yang menimpaku baru-baru ini.”

“Kejadian apa memangnya?”

“Dende Fatimah Mbak.”

“Kenapa dengan dia? Mau ngasih uang?”

“Ya gitu deh. Tapi dia ngasih syarat. Padahal aku dah seneng sekali membayangkan perhiasan-perhisan itu. Eh pas kulanggar syaratnya, dia malah nggak muncul-muncul lagi.” Terangnya sumpringah. Meski terbinar muram kekecewaan.

“Emang apa syaratnya? Bikin penasaran saja.”

“Aku dilarang memotong rambut. Dan dia bilang, bukankah Islam melarang seorang wanita mencukur rambut? Awalnya aku setuju-setuju saja. Tapi masa’ rambutku dibiarkan begitu saja. Dan akhirnya aku langgar syaratnya itu. Eh malah nggak muncul-muncul lagi. Aku jadi kecewa. Nggak jadi dapat perhiasan deh.” Ceritanya panjang lebar. Aku takzim menyimaknya.

“Eh mbak, gimana menurut Mbak tentang kejadianku ini.” Ia menatapku. “Sweer Mbak. Aku nggak boong. Bahkan aku dalam keadaan sadar pas ketemu dia. Bukan sekali-dua kali. Tapi sudah sering. Dan kebanyakan saat aku pulang dari sekolah.”

“Hemm.. gimana ya…” Aku terdiam. “Emang kamu sudah siap kalau aku kasih tahu yang sebenarnya?”

“Kenapa harus nggak siap? Emangnya mau diapain?”

“Tapi gini aja. Besok kamu ke sini lagi. Jadi persiapan mental dulu. Siapa tahu nanti harus dibuktikan dengan tidur di kuburan isana pas jam 12 malam. Jadi harus siap mental.”

“Ah Mbak ini ada-ada saja. Ya dah kalau memang gitu.”

Ia pun pamitan. Suara tarohim mengalun dari berbagai masjid. Bersyahutan. Sepuluh menit lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Aku harus siap-siap untuk menyambut seruan Ilahi itu. Aku langsung masuk ke dalam. Setelah Laila lenyap termakan kejauhan. Ia juga sudah masuk ke dalam rumahnya.

&&&

            “Asalamualaikum….” Suara lirih terdengar sayup-sayup dari Hp jadulku.

“Waalaikum salam. Ada apa?”

“Maaf Mbak nanti sore kayaknya nggak bisa datang ke situ lagi. Ada acara keluarga soalnya. Kalau habis Isya aja gimana? Sekalian aku mau nginap di rumah Mbak. Bolehkan?”

“Ow gitu. Aok wah ndek ape-ape. Emang sudah diijinin nginap di rumahku?

“Udah Mbak. Trima kasih sebelumnya. Wasalalmualaikum.”

Hp pun dimatikan. Aku langsung menaruhnya di atas kasur. Aku langsung ke kamar mandi. Mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Tuk berbagi ilmu dengan anak didikku.

&&&

            Nyiur angin semakin kencang. Bersama dingin malam yang menjerang. Menusuk-nusuk kulit. Hingga ke sumsum. Mengusung hawa angker dari kuburan. Longlongan anjing tak henti berdendang. Ditambah derik jangkrik yang bersahutan. Sedikit ngeri. Tapi aku sudah terbiasa. Sudah familiar dengan suasana seperti itu. Suasana kuburan. Toh juga aku orang yang beriman. Jika masih takut berarti keimananku perlu dipertanyakan.

Usai shalat Isya ia pun datang. Diantar oleh kakaknya. Ia tersenyum. Menghampiriku. Usai mengucapkan salam. Wajah ovalnya yang dibalut jilbab mungil terlihat eksotis. Meski belum masuk dalam standar syar’i dalam berpakaian. Tapi aku menghargainya.

“Lagi sibuk Mbak?” Sapanya ramah.

“Nggak. Aku lagi baca-baca saja.”

“Eh Mbak langsung cerita masalah yang kemarin dong. Aku penasaran ni.”

“Sabar dikit napa? Aku nggak akan pergi ke mana-mana kok. Jadi nginapkan?”

“Ya iyalah mbak. Masak ya iya dong.”

“Ya udah duduk sini di depanku.”

Akhirnya kita duduk berhadapan di atas kasur. Berbalut seprei dongker bermotif bunga-bunga. Di atas meja samping ranjang tergeletak tas kesayanganku yang berbentuk pudle beludru. Ia selalu setia menemaniku. Ke manapun aku pergi.

“Kamu sudah dengar istilah qarin?” Aku membuka diskusi.

Ia menggeleng.

“Makanan apa itu Mbak?” Sahutnya lugu.

“Ini bukan makanan. Tapi jin.”

“Hah jin?” Ia tambah penasaran.

“Ia jin. Jadi begini, setiap manusia itu punya qarin. Atau jin yang selalu menyertainya kapan pun dan di mana pun. Sehingga ia sangat tahu karakter kita. Sifat kita. Semua tentang kita. Dan yang harus diketahui, orang yang sudah mati itu arwahnya nggak mungkin kembali ke bumi. Karena dia sudah masuk ke alam barzakh. Dan barzakh artinya dinding penghalang. Maksudnay yang menghalangi dunia dan akhirat.” Kuterangkan secara panjang lebar. Ia mendengarkanku secara antusias.

“Terus berkaitan dengan Dende Fatimah?” Ia nyeletup.

“Yang pasti Dende Fatimah yang sering muncul dan dikeramatkan itu bukan arwahnya. Bisa jadi itu adalah qarinnya. Bukankah jin itu diberi kemampuan untuk berubah jadi manusia sekehendaknya?”

Ia manggut mangut.

“Terus?” Ia belum puas.

“Apa lagi setiap ia hendak ngasih sesuatu selalu minta syarat. Kecil ataupun besar. Dan yang pasti jika kita mengikutinya berarti kita telah melakukan kesyirikan. Karena telah taat kepada selain Allah.”

Ia terus menyimak setiap kata-kataku.

“Itu kalau memang kuburan itu benar adanya. Tapi kata bapakku, kuburan itu sebenarnya nggak ada mayatnya. Dulu cuma bekas kaki wali katanya. Dan ketika aku bertanya pada penjaga kuburan itu tentang kronologis kenapa sampai dikeramatkan. Ia tidak tahu. Bahkan dia bilang, kalau ditanyakan kepada orang yang paling tua sekali pun. Tetap tidak tahu.”

“Ow gitu Mbak. Untung kemarin aku nggak mau mengikuti ucapannya.” Ia merasa lega. “Dapat ilmu gituan dari mana Mbak?” Lanjutnya.

“Dari kuburan!!”

“Masak Mbak?”

“Ya ikut kajian lah. Masak dari kuburan.”

Keduanya terkekeh.

“Di mana Mbak?”

“Ada deeh.” Kalau mau ikut siap-siap dah besok. Nanti kuajak ke sana.”

“Sip.” Ucap kami serempak.

“Kalau gitu kita makan malam dulu.”

“Sama saya juga Mbak?”

“Ia!” Jawabku ketus.

“Udah. Nggak usah rewel. Ayo temeni aku makan.” Aku langsung menyeretnya ke ruang makan. Ia pasrah.

By. Faqih Adz-Dzaky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s