Keyakinan yang Memasung

Sekarang Soro Adu tidak seperti ketika musim hujan. Yang terlihat ranau karena hijaunya rumput dan dedaunan yang membalutnya.  Berbalik 180 derajat, kini ia tampak kusam. Bak kepala jompo yang telah bertabur uban. Seperti Sleman yang terlumat asap wedus gembel yang berhembus dari ketinggian. Gersang. Termakan kemarau. Dan seperti itulah kebanyakan kondisi alam di Dompu.

Dulu di sini belantara. Lantas dijadikan pemukiman dengan mendatangkan 20 kepala keluarga dari Bima, Flores dan Sumba. Tujuan sebenarnya adalah untuk memenuhi syarat sebuah dermaga yang harus ada pemukiman di sekitarnya. Mereka dijanjikan tanah satu hektar, rumah siap huni dan kapal nelayan. Tapi semua itu nihil. Tak terbukti hingga sekarang. Bahkan tanah yang digunakan untuk mendirikan rumahnya pun dipersulit pengurusan sertifikatnya.

Beberapa bulan kemudian didatangkan 20 KK lagi. Jadi sekarang jumlahnya genap 40 KK. Dari jumlah KK yang sebanyak itu hanya diberikan 5 kapal. Padahal iming-imingnya, untuk tiap 4 KK satu kapal. Kemanakah yang 5 kapal itu? Wallahu a’lam.

Di musim paceklik seperti ini biasanya endemik kemiskinan semakin merebak. Mereka layaknya lampu yang kekurangan minyak. Semakin hari semakin menderita. Lima tahun silam, mereka sempat kelaparan. Karena musim paceklik yang berkepanjangan. Ketika mereka ingin melaut, niatnya terurungkan karena harus bergantian kapal. Mereka pun harus rela menunggu meski uang dan makanan yang dimiliki sudah tak tersisa. Sehingga saat itu ada yang sampai keracunan karena mengkonsumsi tumbuhan yang tidak diketahui asal-usulnya.

$$$

Pagi ini suasana dermaga kecil Soro Adu terlihat lebih ramai dari biasanya. Sebuah dermaga yang hanya dibuat dari beton berbentuk huruf “T” yang berada di teluk yang dikelilingi oleh bebukitan. Sehingga ketika ada yang berdiri di atasnya, ia tidak bisa melihat ke lepas lautan. Di atas beton yang telah berlumut dan terkorosi oleh air laut itu tergeletak berbagai macam ikan besar yang baru saja diturunkan dari kapal. Ada ikan pari, hiu, marlin dan yang lainnya. Semua diletakkan begitu saja. Tanpa ditata. Hanya dikelompokkan sesuai jenisnya. Beberapa kapal kecil juga berjejer tak beraturan di sekelilingnya. Setiap kapal memiliki satu tali untuk mengikatnya ke tiang beton. Di pojok beton terdapat seorang ibu yang tengah memotong ikan marlin hasil tangkapan suaminya. Sebagian langsung dijual dan sebagiannya lagi dibawa pulang.

Sebelah selatan beton ada dua orang yang tengah menarik ikan pari berukuran besar ke pinggir pantai. Dua orang itu terlihat kepayahan menyeret ikan tersebut. Mungkin beratnya lebih dari satu kwintal. Di utara beton, lebih menjorok ke daratan, terdapat ikan marlin yang panjangnya lebih dari lima meter. Diameternya sekitar satu meter. Ia tegeletak menghadap ke lepas pantai. Beberapa anak tengah menaikinya. Menjadikannya seperti sebuah boot yang tengah berkejaran dengan ombak-ombak ganas yang bergulung gelinjang.

Sepuluh meter dari pantai itu berdiri sebuah rumah yang sudah tak berpenghuni. Dulu dibangun untuk dijadikan sebuah kantor yang mengurusi semua administrasi dermaga itu. Di baratnya terdapat sisa-sisa bangunan yang dimanfaatkan untuk pelelangan ikan atau istilahnya TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Di selatan rumah itu, dengan dihalangi oleh jalan yang menghubungkan jalan utama Soro Adu dan dermaga, juga berdiri rumah tua yang dulu digunakan untuk memproduksi es balok. Rumah itu seperti bangunan Purba meski baru dibangun sekitar sepuluh tahun silam. Sebelah timurnya adalah sumur yang tak pernah kering meski kemarau panjang. Ia salah satu dari tiga sumur yang selalu dipenuhi air di musim kemarau.

Setiap hari akan terlihat seorang perempuan yang menyambanginya. Untuk mandi, mencuci pakaian, piring atau yang lainnya. Terkadang ia datang ke situ hanya untuk mengambil air yang hendak dikonsumsi. Ia tinggal dengan suaminya di sebuah rumah yang juga bekas kantor. Letaknya sebelah timur dari rumah yang pertama tadi.

Singkatnya, dermaga itu awalnya sengaja dibangun oleh pemerintah. Namun sekarang dibiarkan tak terurus. Tak diketahui alasannya mengapa mereka melakukan hal itu.

Di rumah itu ia hidup bersama suaminya. Namanya Andreas Sabaora. Seorang Katolik asal Sumba. Ia masuk Islam sebelum menikahinya. Tapi selang beberapa bulan ia kembali ke agamanya dan mengajak sang istri untuk mengikutinya. Meski begitu, terkadang ia pergi ke masjid untuk menutupi kemurtadannya. Tapi pada kesempatan lain, ia juga melakukan kebaktian. Masyarakat setempat pun menjadi jengah melihat kelakuannya. Sehingga ia pun dikucilkan. Akhirnya, ia lebih memilih untuk hidup jauh dari komplek perkampungan. Hidup di pinggir pantai. Di bekas bangunan milik pemerintah itu.

$$$

Istri Andreas itu namanya Iwe. Umurnya masih sekitar 30 tahun. Baru memiliki satu anak. Pagi ini ia tengah termangu di teras rumahnya. Menunggu kepulangan suaminya. Padahal biasanya, ia pergi melaut paling lama hanya sebulan. Tapi sudah dua bulan lebih, ia belum ada kabarnya. Memang ada beberapa orang yang sampai tiga bulan atau enam bulan tidak pulang. Tapi yang seperti ini biasanya para bujangan. Yang tidak memiliki tanggungan keluarga. Dan mereka lama di Flores atau di Sumba.

“Mungkin ia mampir ke Sumba. Melepas rindu bersama keluarganya di sana.” Ia membatin.

Iwe terus menunggu dan terus menunggu. Tapi suaminya tak kunjung datang. Padahal keuangannya semakin menipis. Dan bahkan sudah dikatakan habis. Ia berusaha untuk bertahan hidup semampunya. Hingga suaminya kembali. Dengan meminjam atau membantu menjualkan ikan. Atau sekadar memotongkan ikan agar bisa mendapat bagian. Terkadang ia hanya memelas untuk bisa mendapat seonggok makanan.

$$$

Menjelang keberangkatan suaminya……

Pagi itu ia berkemas untuk melaut bersama teman-temannya. Semua berjumlah empat orang. Dirinya dan Dominggus yang dari Sumba. Dua orang asli Dompu bernama Arif dan Beni. Ia tengah mempersiapkan seluruh perlatan untuk menangkap ikan. Jaring, pancing serta umpannya. Temannya mempersiapkan palu dan parang. Palu tersebut digunakan untuk memukul kepala ikan yang besar agar pingsan. Sehingga tidak melawan saat ditarik menggunakan kail. Jika ikan tersebut terlalu kuat, maka senar pancing itu akan dipotong dengan parang tersebut.

Iwe mengantarkannya sampai ke dermaga. Sambil membawakan sebagian perlengkapan logistik yang hendak dibawa. Tiga temannya sudah menunggu di dalam kapal yang panjangnya sekitar 10 meter dengan cat biru langit dan merah muda.

“Pila nai ne’emu lao loja?”[1] Tanya Iwe dengan wajah berseri. Tapi terlihat berat untuk melepasnya pergi.

“Sekarang paling lama 15 hari. Semoga sepekan sudah bisa pulang.”

“Jangan lupa meminta keselamatan pada sang Pengasih mas.”

“Sante mpa.”[2] Jawabnya sambil berpelukan. “Horu ka taho po sarumbumu labo la Mahadin.”[3]

Iwe mengagguk.

Andre beranjak ke kapalnya. Ia lambaikan tangan kanannya sebagai tanda perpisahan. Sejak tadi mesin kapal sudah dipanaskan. Kapal biru itu langsung melaju. Meninggalkan dermaga. Menciptakan buih putih di buritan. Iwe sekarang sendirian. Ia langsung meninggalkan dermaga. Menemui anaknya. Mahadin Sibarani namanya. Tadi ditinggalkan saat masih terlelap tidur.

$$$

Di tengah lautan….

Siang hari di lepas pantai hanya terlihat hamparan air yang tengah bergoyang. Bergelombang. Biru tua. Tak bertepi. Enam hari di atas kapal cuacanya masih seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda badai atau yang lainnya. Langit masih terang. Dan laut pun tenang. Kapal itu terus melaju. Sekarang mendekati pulau Sumba. Ia sudah jauh meninggalkan dermaga keberangkatannya.

Tapi sore itu tiba-tiba matahari menghilang. Tertutup awan pekat. Mengusung gemuruh halilintar. Memercikkan kilatan-kilatan listrik dari petala langit. Sinar itu seperti akar. Ujungnya seakan membidik riak-riak gelombang yang berkejaran di permukaan samudera. Mereka langsung terperanjat. Menyaksikan deru angin yang semakin mendekat. Dan ternyata, deru angin itu berbentuk pusaran. Pusaran puting beliung. Membumbung. Lancip di dasarnya. Melubangi lautan. Berputar sangat kencang. Mengejar kapal mereka.

Arif teringat dengan cerita ayahnya. Katanya jika dalam keadaan demikian tiga jari tangan kanannya ditekuk. Sedangkan jempol dan telunjuknya dibiarkan terbuka membentuk huruf  “L”. Kemudian diletakkan di depan pusar dengan telunjuk mengarah ke pusaran angin. Lalu tangan itu dibelokkan sesuai kehendak. Tujuannya agar angin itu juga berbelok. Tidak mengejarnya. Dulu ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.

Sekarang kejadian itu terulang kembali. Sehingga ia mencoba untuk seperti itu lagi. Tapi keyakinannya meleset. Pusaran itu malah semakin mendekat. Karena memang Allah berkehendak demikian. Dulu mungkin sengaja diselamatkan, agar ia semakin percaya dengan keyakinannya itu. Sehingga ia semakin jauh tersesat. Syari’at mengistilahkannya dengan istidraj. Atau pengelu-eluan.

Andre juga berdo’a. Sesuai dengan kepercayaan agamanya. Ia berkali-kali menyentuhkan tangannya ke dada dan keningnya lalu mencium jempolnya. Tangan kirinya memegangi bandul salib yang terkalung di lehernya erat-erat. Tapi naas. Tuhannya tidak bisa menyelamatkannya. Puting beliung itu semakin mendekat. Tinggal beberapa meter.

Sebagai orang Katolik, Dominggus juga berdo’a sebagaimana Andre. Tapi ia tidak memegangi bandul salib. Karena ia tidak memilikinya. Sedangkan Beni yang saat itu bertugas sebagai nahkoda langsung mematikan mesin kapalnya. Membiarkan kapalnya diam. Terombang-ambing oleh deburan ombak yang semakin besar. Semuanya pun pasrah. Dengan takdir yang akan menimpanya.

Akhirnya, puting beliung itu menghantam galangan kapal. Sangat keras. Membuatnya oleng dan berputar mengikuti pusaran. Lantas pecah dan tenggelam. Menghilang berlahan. Tak terlihat lagi di permukaan.

$$$

Keesokan harinya…..

“Tolong….ada mayat terdampar….!!!” Salah seorang berteriak.

Pagi itu, penduduk dermaga Batu di Sumba Barat digegerkan oleh sebuah mayat yang terdampar mengenaskan. Ia berbujur kaku. Tinggal celananya saja yang masih melekat di badannya. Tim SAR langsung mengevakuasi mayat tersebut.

Setelah celananya dilepas, salah seorang yang mengevakusainya menemukan sebuah dompet di saku belakang. Di dalam dompet tersebut terselip sebuah KTP. Namanya, Andreas Sabaora dari kabupaten Dompu. Sedangkan mayat yang lainnya tidak diketahui posisinya. Mereka mungkin hilang. Atau telah dimakan ikan.

$$$

Saat senja bertandang, Iwe kembali duduk di teras rumahnya. Sama seperti tadi pagi. Ia mulai melamun. Menunggu kedatangan suaminya. Membayangkan masa-masa bersama. Dalam suka maupun duka. Saat pikirannya melayang ke negeri antah berantah, tiba-tiba datang seorang anak. Memecahkan lamunannya.

“Mba Iwe. Disuruh ke dermaga secepatnya!!!” Anak kecil itu setengah berteriak. Dan langsung pergi. Iwe tidak sempat menanyakan penyebabnya.

Ia langsung bergegas. Ketika sampai di dermaga, seorang lelaki berkulit legam menghampirinya. Badannya kekar dengan rambut kusam. Sebuah pemandangan khas para nelayan.

“Ini punya suamimu kan?” Ia menyodorkan sebuah dompet hitam kepadanya.

Iwe membukanya berlahan. Ia lantas mengangguk. “Kenapa suamiku?” Tanyanya lirih.

“Kemarin kami sempat mampir ke dermaga Batu di Sumba Barat. Karena ia tahu kami dari Dompu, setelah kami melaporkan ke kantor dermaga, seorang petugas memberiku dompet itu. Katanya kemarin ada mayat terdampar di sana dan dompet itu ditemukan di saku celananya. Katanya juga mayatnya sudah dikubur. Dan dia menyuruh aku memberikan dompet itu sama keluarganya. Setelah kulihat KTP-nya ternyata itu miliki suamimu. Jadi dompet itu kuberikan kepadamu.” Terangnya panjang lebar sambil menunjuk-nunjuk ke dompet ketika mengucapkan ‘dompet itu’.

“Terus bagaimana kabar teman-temannya?”

“Aku tidak tahu. Tidak ada kabar dari mereka.”

Iwe langsung lemas. Ia tersungkur. Badannya langsung kaku. Mengingat suaminya. Seorang suami yang mengajaknya untuk keluar dari agama Islam. Dan ia menerimanya. Meski terpaksa.

$$$

Masyarakat muslim Dompu meyakini bahwa orang yang murtad tidak bisa masuk Islam lagi. Alasannya, karena ia telah mempermainkan agama. Tak hanya masyarakat awamnya saja yang mengikuti pemahaman ini, para kiyainya juga sama. Padahal yang sebenarnya, orang murtad tetap bisa masuk Islam lagi. Karena setiap dosa tetap dimapuni selagi matahari belum terbit dari barat dan nyawa belum sampai di tenggorokan.  Sebagaimana perintah Allah kepada Rasul-Nya,

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”[4]

Walau konsekwensinya, ia harus memenuhi syarat-syarat dari taubat nasuha itu sendiri agar keislamannya bisa diterima. Yakni, melakukannya secara ikhlas, menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan, berhenti total dari dosa tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa mendatang.

Karena keyakinan yang salah itulah hingga sekarang perjuangan Iwe untuk masuk Islam belum membuahkan hasil. Padahal keinginan itu muncul sejak masih bersama suaminya. Tapi karena ia rasa takutnya terhadap sang suami, ia tidak pernah mengungkapkan keinginanya.  Malang nian nasibnya, ia harus terpasung oleh keyakinan masyarakat yang menyimpang. Dan ternyata Iwe tidak sendirian. Masih banyak Iwe-Iwe lain yang senasib dengannya. Yang ingin kembali memeluk Islam tapi terhalang oleh sebuah keyakinan.

Tapi Iwe terus berusaha untuk merealisasikan keinginnya itu. Suatu saat ia datang ke rumah kepala dusun dan takmir masjid setempat. Ia pun menyampaikan keinginanya.

“Pak Kadus saya mau masuk Islam lagi.” Ujarnya.

“Orang yang murtad tidak bisa masuk Islam lagi.” Jawabnya.

“Kenapa begitu Pak Kadus?”

“Karena kamu telah mempermainkan agama Allah. Dan itulah hukuman yang pas buat kamu.”

“Setahu saya semua dosa itu diampuni. Dan pelakunya bisa bertaubat.”

“Iya, kecuali dosa murtad. Kata pak kiyai seperti itu.”

“Mungkin kata pak kiyai yang lain bisa?”

“Ya udah, kamu cari sendiri saja pak kiyainya yang lain.” Perintah pak kadus. “Yang saya tahu seperti itu. Orang murtad tidak bisa masuk Islam lagi.” Ia pun meninggalkannya.

Wanita itu pun kembali ke rumahnya dengan tangan hampa. Ia harus tetap beragama Katolik meski hati menolaknya. Kasihan ia.

By: Faqih Adz-Dzaky

 

 

 


[1] . Rencana berapa hari melautnya?

[2] . Tenang saja

[3] . Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa rawat Mahadin dengan baik

[4] . Az-Zumar: 53

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s