Mobil Kijang Itu

Suasana malam pelabuhan Lembar semakin mencekam. Yang tercium hanyalah hawa kenakalan para penghuninya. Baru kali ini aku harus berani menerobos aral kehidupan yang menantang. Aku ingin pulang ke Jawa. Itu tekadku. Tapi masalahnya, akau hanya memiliki beberapa lembar puluhan. Jika mencoba menghitung seluruh ongkos hingga tujuan, aku hanya akan berucap tiga kata: tidak mungkin sampai! Tapi aku yakin Allah maha Kaya. Aku yakin Allah Maha Pemurah. Aku percaya Allah tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Aku ingin pulang ke kampung halaman. Sekarang juga.

Memnga aku punya orang tua. Tapi aku tahu sifatnya, jika aku meminta izin kepada mereka pasti tidak akan diizinkan. Aku yakin itu. Tapi aku ingin pulang.

Dengan tekad yang bulat, kutapakkan langkahku tanpa keraguan. Sekarang, aku sudah melewati sepertiga perjalanan. Dan malam ini, lembaran puluhan itu telah lenyap dari genggamanku. Aku telah menghabiskannya untuk ongkos naik truk dari Bima.

Kuseret langkahku yang mulai gontai. Menuju mushala kecil di pojok dermaga. “Ya Allah, aku yakin Engkau akan menolongku.” Aku mendesah. Sambil duduk di teras mushala.

“Engkau Maha Tahu. Beberapa bulan ini aku telah meninggalkan kampung halamanku demi sebuah ilmu. Kata Rasulullah, berarti aku tengah berada di jalan-Mu ya Allah. Dan kata beliau, di sana pahala berlimpah.” Hati kecilku mencoba menggugat. Berkali-kali kuusap wajahku yang mulai kusam.

***

“Sendirian De’?” Orang setengah baya itu menyapaku. Sepertinya baru selesai menunaikan shalat Isya.

“Iya pak. Mau pulang ke Surabaya tapi uangku sudah habis.” Kuberanikan diri untuk berbicara padanya.

“Oo gitu. Kebetulan De’ aku juga mau ke Surabaya pakai travel. Semoga saja masih ada tempat duduk yang kosong.”

Sesaat kesedihanku yang hampir termakan kepustusasaan hengkang. Mukaku yang sejak tadi kusut masai langsung ceria. Seperti sahara yang terus menerus diguyur hujan.

“Allah telah mengabulkan do’aku.” Desisku.

Beberapa menit kemudian kijang Inova warna silver itu datang. Menhampiri kami berdua.

“Ada tempat duduk yang masih kosong?” Tanya bapak itu pada sang sopir.

“Wah, sudah penuh pak. Tinggal untuk bapak saja.”

Aku sedikit kecewa. Sepertinya Allah masih mencoba menguji keyakinanku. Mungkin masih ada keraguan dalam hatiku. Sehingga aku harus tetap berdiam beberapa saat di keremang-remangan ini.

“Waduh, maaf De’. Sepertinya tidak bisa ikut bersama kami. Nggak apa-apa kan?” Ia merasa bersalah.

“Oh nggak apa-apa pak. Mungkin belum rizkiku.”

Sekelah pintu mobil tertutup rapat, sang sopir langsung menarik gas mobilnya. Mobil itu berlahan menghilang. Termakan gulita pelabuhan. Aku kembali duduk di teras. Tapi tiba-tiba….

“Assalamualaikum.” Suara itu memecahkan lamunanku. Aku masih berfikir untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.

“Ke sini sebentar.” Pinta Bapak itu.

Aku menghampirinya. Dari dalam mobil Bapak itu menyodorkan beberapa lembar ratusan melalui jendela.

“Cukupkan?” Tanyanya.

“Untuk apa ini pak?” Aku heran.

“Untuk kamu. Cukupkan?”

“Oh terima kasih pak. Jazakallah khair.” Hatiku girang. Tak bisa kugambarkan. “Aku yakin Allah pasti menolongku.” Desisku. Dan akhirnya aku pulang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s