Mereka Para Korban Janji

Aku masih termangu di atas dinding serambi setinggi 60 cm yang mengelilingi masjid Al-Hidayah. Duduk sambil menyandarkan badan ini ke tiang penyangga atap teras. Tangan kananku memegang Kitabullah yang telah menemaniku hampir enam tahun. Sampul coklatnya sudah mulai hancur. Meski begitu, aku tetap setia kepadanya. Dengan terus membacaanya di setiap kesempatan yang ada.

Aku duduk di sebelah utara. Menikmati semilir angin siang yang berhembus menyelusuri kampung tersebut. Sebelah timur dan selatannya adalah bukit gersang yang termakan kemarau. Siang-siang begini aku sama sekali tidak tahan berada di dalam kamar. Sumpek, pengap dan panas. Terlebih kondisi kamar yang jauh dari ideal, membuatku semakin tidak betah lamat-lamat di sana.

Menurutku, jika di masjid minimal aku bisa meniatkan untuk i’tikaf tathawu’[1]. Kemudian kesempatan itu kumanfaatkan dengan melakukan beberapa ibadah. Membaca Al-Qur’an lantas mentadaburi isinya, atau menatap alam yang gersang sambil menghayati keagungan-Nya. Atau juga membaca buku keagamaan, buku sains serta yang lainnya. Sehingga Ramadhanku tidak berlalu sia-sia.

Aku masih terdiam. Tak bergeming. Sesekali kugaruk kepalaku meski tidak gatal. Sebenarnya aku sekarang tengah berfikir, bagaimana caranya agar aku bisa mandi dan buang air besar. Itu saja. Sebab, sudah tiga hari ini badanku belum terjamah air. Dan aku juga belum sempat membuang sisa-sisa pembakaran yang ada di pencernaanku. Tentu bukan karena aku tengah berada di kutub. Sehingga aku sama sekali tidak berani menjamah air karena takut membeku. Aku juga tidak berada di tengah padang sahara yang hanya dipenuhi fatamorgana. Sama sekali tidak. Tapi sekarang aku berada di Dusun Soro Adu, kelurahan Jambu kecamatan Huu yang berada di kabupaten Dompu.

Di sini sangat gersang. Tampak seperti kepala jompo yang dipenuhi uban. Sumur yang berada di pojok halaman masjid sudah bisa dikatakan kering. Ketika aku mencoba menimba airnya, paling pertama aku akan mendengarkan suara benturan antara ember dan batu. Yang kemudian menggema lalu memekakkan telingaku. Aku akan tersenyum jika masih bisa mengambil airnya yang paling hanya cukup untuk mengelap mukaku. Jika dianalogikan, maka sekarang aku bak para mujahidin di Afghanistan. Yang hanya bisa mandi setiap sepekan sekali karena minimnya air.

“Hari ini bisa mandi nggak ya?” Gumamku.

Sebagai pendatang, aku sama sekali tidak tahu kondisi di kampung ini. Yang sempat mampir di telingaku hanya sebuah kabar bahwa tempat tugasku berada di pinggir pantai. Itu saja. Dan sekarang aku hanya bisa berdo’a, semoga Allah bisa memberikan solusi secepatnya. Aku sadar, mungkin inilah ujian awal berada di medan juang. Untuk menyeleksiku apakah bisa menjadi golongan yang bertahan ataukah yang berguguran. Karena selama ini, meski aku berada di kancah dakwah, aku selalu hidup dalam kecukupan. Hanya ada sedikit rintangan.

“Ya Allah, semoga aku kuat sampai deadline yang telah ditentukan.” Aku berharap.

$$$

Di sini, kami berdua bersama temanku yang dari Lombok Tengah. Namanya Syamsul. Dia adik tingkatku di Ma’had Khalid bin Walid, Universitas Muhamadiyah Mataram. Sebenarnya kami mendapat tugas Jaulah Ramadhan[2] ini untuk tiap masjid satu orang. Tapi karena masjid yang di dusun Bara sudah tidak difungsikan lagi, akhirnya aku digabungkan bersama temanku di sini.

“Kemarin aku sempat jalan-jalan ke Bara. Tapi saya lihat masjid Muhammadiyah yang berada di sana sudah menjadi kandang kambing.” Terang ketua cabang Muhammadiyah Dompu. Ia di duduk sofa sambil menyandarkan tubuhnya.

Deg, kami tersentak.

“Sudah jadi kandang kambing Pak?” Jawab kami serempak. Kugelengkan  kepalaku beberapa kali. Aku heran. Rumah Allah kok sampai jadi kandang kambing.

“Ia.” Jawabnya santai. “Makanya nanti kita gabungkan saja.” Lanjutnya.

Mendengar ucapannya itu aku langsung komat-kamit. Berdo’a agar aku ditempatkan di daerah yang terjangkau. Dekat kota maksudku.

“Siapa yang mendapat tugas di Bara?” Tanya Bapak itu kepada kami.

“Saya Pak.” Jawabku sambil memberikan isyarat dengan tangan kananku.

“Berarti nanti kamu gabung dengan temanmu yang bertugas di Soro Adu.”

“Iya Pak.” Aku sedikit ragu. “Kondisi kampungnya gimana Pak?” Tanyaku melanjutkan.

“Tenang saja. Kampungnya berada di pinggir pantai. Jadi kamu bisa berenang setiap hari di sana.” Ia mencoba menghilangkan keraguanku. Tawa kami pun membuncah.

“Kalau keadaan penduduknya gimana Pak?” Sebuah pertanyaan yang lazim muncul dari seorang da’i yang hendak memasuki kawasan dak’wah yang baru. Sekadar untuk mencari metode dakwah yang tepat. Para ulama mengistilahkannya dengan Fiqhul waqi’ atau fiqih realitas.

“Yah biasalah orang kampung. Masjidnya memang Muhammadiyah, tapi masyarakatnya belum tentu Muhammadiyah. Jadi tidak usah melawan arus agar kalian bisa diterima di sana.”

Kami mengangguk.

$$$

Sekitar dua jam kami menyusuri jalan berbatu. Persis seperti sungai kering. Aspalnya sudah terkelupas. Hanya ada beberapa jengkal yang masih menempel. Di dalam mobil kijang super warna hijau itu, aku mencoba memejamkan mata. Tapi udara yang semakin panas dan kondisi jalan yang membuat mobil kami bergoyang membuatku tetap terjaga. Beberapa kali kulempar pandanganku ke luar jendela.

“Ah, semakin masuk ke pedalaman.” Bisikku dalam hati. Kurebahkan tubuhku untuk yang ke sekian kali. Aku ingin secepatnya menyaksikan suasana kampung yang akan kami singgahi.

“Semoga aku betah di sana. Sebagaimana ketika aku menjalani hidup di Mataram.” Kulepaskan nafas panjang. Tuk menyeka kelelahan yang menggerogotiku selama di perjalanan.

Tepat ketika adzan Dzuhur berkumandang, aku sampai ke dusun Soro Adu. Berhenti tepat di sebuah warung milik Bapak Hidayat.

“Assalamualaikum.” Sapa kami.

“Wa’alakum salam.” Jawabnya penuh takzim.

Kami mengobrol beberapa saat. Membicarakan kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan selama tugas. Menanyakan hal-hal yang perlu diwaspadai agar kami bisa diterima oleh masyarakat setempat. Meminta deskripsi tipikal masyarakat yang ada di dusun ini. Tidak lupa pula kami memperkenalkan diri.

Bapak hidayat yang rambutnya sudah mulai beruban itu ternyata asli orang Sunda. Dulu ia bekerja di sebuah perusahaan tambak udang bernama PT. Sira. Perusaan itu telah kolap. Sebabnya, waktu itu si pemilik perusahaan yang asli keturunan Batak menyembelih anjing. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga dihidangkan ke kariawannya yang muslim. Inilah yang membuat penduduk jengah. Akhirnya, masa mengamuk dan menghancurkan perusahaan itu. Sekarang tinggal nama dan sisa bangunannya saja.

Sekarang ia bekerja sebagai nelayan sebagaimana kebanyakan penduduk yang lainnya. Di samping juga bekerja di kantor desa. Kutatap wajahnya sejenak. Sepertinya beban hidup yang mendera dirinya sangat banyak. Aku terenyuh.

Sebelum shalat Dzuhur, kami menyempatkan diri berkunjung ke rumah kepala dusun yang berada di depan masjid. Hanya terhalang oleh jalan dan halaman masjid saja. Di kampung itu, aku hanya melihat satu atau dua rumah saja yang permanen, sisanya adalah rumah pemberian dari pemerintah.

“Dulu di sini tidak ada kampung.” Ujar bapak Kadus tersebut. Ia mulai bercerita saat aku tanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan penduduk di sini.

“Emang dulunya pindahan ya Pak?” Aku merespon.

“Ya.” Jawabnya tegas. Ia menghadapkan wajahnya ke arahku. Sejak tadi ia bercerita sambil menatap alam. Nanar. “Kita di sini adalah para transmigran.” Ia melanjutkan.

“Awal mulanya gimana Pak?” Aku memancingnya untuk bercerita.

“Dulu ada rencana dari pemerintah untuk menjadikan pantai yang di situ menjadi pelabuhan.” Jarinya menunjuk ke arah pantai yang yang berada di barat daya kampung. “Namun syaratnya, di sini harus sudah ada yang bermukim. Akhirnya didatangkan  sekitar 20 kepala keluarga dari Bima, Flores dan Sumba. Pemerintah menjanjikan kami ladang satu hektar, perahu nelayan dan rumah siap huni.”

Ia bercerita panjang lebar. Sambil menahan kelu yang hendak ia tumpahkan kepada kami. Baginya, kami adalah para intelektual yang mampu mengentaskan problematika yang sekarang menderanya. Di kampung seperti ini, para mahasiswa sangat dihormati. Terlebih jika background-nya pendidikan agama. Ada nilai tambah di sana.

“Untuk yang kedua kalinya didatangkan sekitar 20 kepala keluarga. Jadi sekarang kurang lebih ada 40 KK di sini. Namun ternyata, janji itu hanya sekedar janji. Tanah satu hektar yang dijanjikan itu sampai sekarang belum jelas ujung-pangkalnya. Makanya kami sengaja menanam jati di sekitar sini meski pemerintah melarangnya. Perahu yang dijanjikan untuk tiap 4 KK juga sekedar omong kosong. Seluruhnya hanya ada empat buah saja untuk 40 KK. Bahkan tanah rumah yang sudah jelas sedang kami tinggali ini, dipersulit juga pengurusan sertifikatnya oleh para perhutani.

“Dulu saat paceklik di kampung ini sempat ditimpa kelaparan. Sebenarnya kami bisa mengantisipasinya dengan menangakp ikan. Namun karena minimnya fasilitas membuat kami tetap kelaparan. Hingga ada di antara kami yang keracunan karena memakan tumbuhan yang tidak semestinya dimakan. Aku, sebagai kepala dusun merasa ikut bertanggung jawab atas semua ini. Aku pun datang ke kantor pemerintah untuk menuntut hak yang telah dijanjikan kepada kami. Tapi mereka membisu. Sepertinya ingin membunuh kami secara berlahan. Dan aku pun muntab. Aku bilang kepada mereka,

“Kalau Bapak menginginkan kami mati, jangan begini caranya. Sekalian saja hujani kami peluru dari atas atau dibom sekalian, biar kami tidak tersiksa seperti ini.”

“Akan tetapi mereka tetap bergeming. Hingga sekarang. Kamilah para korban janji pemerintah yang arogan itu.” Sejenak ia diam. Memberikan jeda untuk kami berkomentar.

Aku menunduk penuh hikmat menyimak ceritanya yang panjang itu. Kurasakan beban berat tengah mendera penduduk kampung ini. Di musim paceklik seperti ini, pasti banyak yang menganggur. Yang mengakibatkan endemik kemiskinan menyusup ke setiap elemen keluarga. Dan ternyata itu benar. Mereka seperti lampu yang kekurangan minyak. Semakin hari semakin menderita karena kemiskinan yang menimpanya. Kutatap wajah Pak Kadus lebih dalam. Matanya sudah berkaca-kaca. Sepertinya ingin menangis untuk mengobati rasa kelunya. Sungguh kasihan. Masihkah pemerintah diam??

$$$

Sore hari, agenda pertama kami adalah mengajar TPA. Dengan adanya orang baru di sana, semangat mereka tersulut kembali. Seperti pelita yang hampir kehabisan minyak, namun ditambah lagi. Dan selama kami di sana, mereka laksana api nan tak kunjung padam, semangatnya terus membara. Kami sangat bersyukur, karena respon mereka terhadap kami sangat baik.

Sebagaimana di sekolah TPA pada umumnya, tentu kami mebutuhkan papan tulis. Atau Whiteboard kalau ada.

“Pak, ada papan buat dijadikan papan tulis?” Tanya Syamsul pada Pak Kadus.

“Oh ada, sebentar kami ambilkan.” Ia langsung kembali ke rumahnya. Beberapa menit kemudian ia sudah datang dengan membawa papan jati yang hendak dibuat almari. Sepanjang 2,5 m dan lebarnya sekitar 8 cm.

“Yang ini?” Ia bertanya kepada kami.

“Oh bukan. Maksudku triplek yang bisa dimanfaatkan untuk papan tulis.” Terangku.

“Wah kalau yang itu nggak ada.” Ia sedikit malu.

Kami berfikir. Memutar otak sambil menerka-nerka solusinya.

“Begini saja Pak Kadus, gimana kalau pintu masjid yang di sebelah utara itu kami jadikan papan tulis saja. Boleh?”

“Oo…, boleh. Terserah adik aja kalau memang diperlukan.”

Di hari pertama masjid berukuaran 10 x 12 meter itu bejibun oleh anak-anak dan remaja kampung. Lantainya yang dari semen sudah terbelah di sana-sini. Sengaja ditutup dengan karpet biru agar tidak terlihat kerusakannya. Kelambu putihnya sudah berubah menjadi krem. Kotor tak terurus. Sepertinya tidak pernah dicuci. Sarang laba tersebar di setiap plafon. Kusen-kusen jendela dan pintunya sudah termakan rayap. Dan dindingnya sudah retak. Jika di Lombok, mungkin tinggal menghitung hari untuk direnovasi. Dan di pulau seribu nasjid itu, rumah Allah seluas ini belum bisa dikatakan masjid. Akan tetapi di sini, di dusun Soro Adu, inilah rumah Allah yang paling bagus. Karena tidak ada rumah Allah yang lebih mewah darinya.

Si Syamsul kutugasi untuk mengurus anak-anak dan aku yang memberi ta’lim pada para remaja. Meski aku lebih muda, tapi aku lebih senior dalam dunia dakwah.  Sehingga dia menyerahkan yang lebih tua kepadaku. Di samping juga karenba aku kakak tingkatnya.

Ketika sang mentari undur diri, kami buka puasa bersama di masjid dengan makanan ringan apa adanya. Selanjutnya aku dan Syamsul akan pergi ke rumah Pak Hidayat untuk makan di sana. Pada saat adzan Isya berkumandang, kami akan kembali ke masjid untuk menjadi imam tarawih dan kultum secara bergiliran. Dilanjutkan tadarus bersama sesudahnya.

Sekitar jam empat kami bangun untuk sahur di rumah pak Hidayat hingga adzan Subuh. Usai shalat kami juga bergantian mengisi kuliah Shubuh. Pesertanya hanya tiga orang. Bapak Hidayat, Bapak Kadus dan salah satu dari kami. Aku akan kembali ke kamar sekitar jam sembilan.

Terkadang kami jalan-jalan ke pantai sekitar jam tujuh. Pantai yang indah sebenarnya. Namun karena tidak terurus, sehingga keeksotisannya lenyap begitu saja. Untuk bersilaturahim ke beberapa tokoh setempat, biasanya kami manfaatkan waktu menjelang dzuhur. Itulah rutinitasku tiap hari. Hingga berakhirnya waktu tugas.

$$$

Saat itu, aku ketiduaran usai membaca Al-Qur’an. Tepatnya sekitar jam sepuluh. Namun, tiba-tiba terbangunkan oleh suara mobil jip yang menderu di depan masjid. Aku berdiri. Seorang perempuan setengah baya dengan jilbab hijau muda keluar dari mobil Nisan Terano itu. Ia menuju masjid. Di belakangnya seorang lelaki yang tergopoh membawa berbagai macam pakaian. Ada apa gerangan? Apakah ada juragan yang hendak membagikan sumbangan? Mungkin saja.

Ah ternyata sebuah cerita klasik para pejabat. Yang suka manggung dan berorasi karena mengharapkan suara sebanyak-banyaknya saat pemilihan nanti. Dan ia salah satunya. Seorang istri Bupati yang hendak membagi-bagikan seragam sekolah, sarung dan uang untuk orang kampung.  Suasana masjid itu menjadi riuh. Disesaki oleh orang-orang yang mengharapkan bagian. Aku jengah menyaksikannya. Akupun keluar menuju rumah Bapak Kadus. Di depan rumahnya ada pohon waru yang dibawahnya disediakan tempat duduk. Saat-saat seperti ini pasti sejuk bersantai di sana. Menikmati semilir angin yang tengah menari-nari di ranting-ranting kering. Yang berhembus menggoyangkan rerumputan yang sudah gersang.

“Acara apaan tuh Pak?” Tanyaku kepada Bapak Kadus yang tengah kelelahan. Katanya sedang menerima order untuk membuat almari.

“Ah biasa para pejabat. Sebentar lagi kan pemilihan Bupati. Jadi ia sedang ingat rakyat.” Terangnya enteng.

“Oo begitu. Kirain lagi ada saudagar kaya yang baik hati. Sebentar lagi kan lebaran.” Aku pun mengangguk. Faham.

$$$

Pada mulanya, kami hendak menggenapkan 20 hari di tempat tugas. Alhamdulillah kami bisa kerasan meski berada dalam keterbatasan. Namun rencana itu menyusut bersamaan datangnya kabar bahwa teman-teman yang di Bima akan pulang secepatnya. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang di hari yang ke-15. Maka kami membuat planning untuk acara perpisahan.

Kami pun mengambil mufakat untuk mengadakan acara buka bersama yang dilanjutkan acara perpisahan di malam yang ke-14. Esoknya kami akan mempersiapkan semua hal menjelang kepulangan. Menyuci baju kotor dan merapikan kamar serta mencuci kantong bantal juga spreinya. Tak lupa pula menyelesaikan keuangan akomodasi selama tinggal Soro Adu. Kami akan bertolak Ahad pagi kemudian mampir di pondok Hidayatullah yang berada di Bara. Selanjutnya akan pulang ke Lombok di malam hari. Itu rencana kami.

Hari terakhir, rasa haru itu menyelimuti kami. Beberapa anak perempuan yang tidak mengizinkan kami pulang menitikkan air mata. Sungguh syahdu. Baru kali ini aku mendapatkan sebuah tangisan dari anak-anak. Beginikah nikmatnya berkecipak di medan dakwah?? Aku bersyukur, karena aku bisa mengabdikan diriku untuk Islam. Semoga hingga akhir hayatku. Dan oleh-oleh yang lazim diberikan oleh orang Dompu adalah bawang merah dan buah asam. Begitupun yang diberikan kepadaku.

Selamat tinggal Soro Adu. Semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu. Semoga!! (By: Faqih Adz-Dzaky)


[1] . Sunnah

[2] . Safari Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s