Pengobatan Mubah

Islam adalah agama yang hilostik (kulliy). Mengatur berbagai lini kehidupan dari yang teringan sampai yang terberat. Termasuk masalah kedokteran yang terkenal dengan sebutan ”tibbun nabawi” (pengobatan ala Nabi). Teori ini adalah berlandaskan wahyu ilahi yang diturunkan kepada nabi-Nya. Yang menjelaskan apa yang berguna dan apa yang berbahaya bagi tubuh kita. Jadi bukan berlandakan analogi, eksperimen, prediksi atau bahkan mengadopsi dari binatang. Sebagaimana yang berlaku di banyak ilmu kedokteran medis saat ini.

Ada beberapa cara dalam metode penyembuhan penyakit jasmani dalam tibbu nabawi. Di antaranya harus bersifat rasional (masuk akal) misalnya dengan menggunkan terapi seperti bekam, ”Kesembuhan itu terhadap dalam tiga hal: minum madu, sayatan alat bekam, dan sundutan api, tetapi aku melarang umatku berobat dengan sunduta api.” (HR. Bukhari)

Atau dengan obat-obatan herbal seperti memium madu, jintan hitam, dan sebagainya. Sebagaimana dalam sabdanya, ”Hendaklah kalian mengkonsumsi jintan hitam. Karena di dalamnya mengandung obat dari segala penyakit, kecuali as-samm (kematian).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diperbolehkan juga menggunakan sistem pengobatan yang tidak sesuai dengan akal, namun ia harus berlandaskan dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Seperti pengobatan dengan ruqyah, yaitu dengan membacakan ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a dari Nabi secara jahr (suara keras). Sebagaiman ketika nabi sujud pada waktu shalat, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat jari tangannya. Maka beliau keluar dan berkata, ”Semoga Allah melaknat kalajengking. Ia tidak membedakan antara seorang nabi dan yang lainnya.” Kemudian Nabi menyuruh untuk diambilkan air dan garam, lalu bagian yang disengat kalajengking tersebut direndam dengan air garam itu sambil membaca qulhuwallahu ahad dan mua’awidzatain (qul a’udzu bi rabbin nash dan qul a’udzu bi rabbil falaq,) sehinga rasa sakitnya pun reda. (HR. Ath-Thbrani)

 

Bekam, Oleh-oleh Isra’ yang Dilupakan

Setiap ada moment isra’ dan mi’raj, pasti yang diceramahkkan oleh para da’i adalah kronologis diwajibkannya shalat lima waktu. Ya, ini relaitas. Namun tahukah kita bahwa selain mendapatkan mandat dari Allah tersebut, beliau juga mendapat oleh-oleh wasiat dari para malaikat supaya memerintahkan umatnya untuk berbekam?

Cobalah perhatikan sebuah hadits riwayat Ibnu Majjah yang telah disahehkan oleh Syeih Al-Bani dalam Silsilatush Shalih-nya:

 

مَا مَرَرْتُ لَيْلًةَ أُسْرِيَ بِي بِمَلَإِ إِلاَّ قَالُوْا يَا مُحَمَّدُ مُرْ أُمَّـتَكَ بِالحِجَامَةِ

 

”Tidakklah aku berjalan pada sekelompok malaikat pada malam aku diisra’kan kecuali mereka mengatakan, ”Wahai Muhamad, perintahkan umatmu untuk berbekam!”

Sungguh wasiat tersebut telah dilupkan oleh sebagiamn besar umat ini. Sehingga mereka lebih memilih pengobatan yang hanya bermodalkan terkaan belaka. Bahkan ada yang sampai terjerumus ke dalam kesyirikan lantaran mendatangi perdukunan. Wal hasil penyakitnya pun tak kunjung sembuh, hanya dosa dan keputusasaan yang di dapatkan.

Untuk itu marilah kita kembali kepada pengobatan ilahiyah yang bersifat qot’i (pasti ) ini. Sebagai bukti usaha kita dalam rangka ihyaussunnah (menghidupkan sunnah). Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s